Tapa dan Siksa

January 18, 2011
48 secs

Judul: Buddha 3: Dewadatta

Penulis: Osamu Tezuka

Penerjemah: Asha Fortuna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007

Tebal: 322 halaman

ISBN: 9789799100689

Harimau garang sekalipun bila kenyang akan berbaring selesa dan tidak akan menyakiti seekor kutu pun.
Mangsa terlezat bisa datang ke dekatnya, tapi membuka mata pun tidak akan. Menjauhkan diri dari naluri membunuh sudah menjadi hukum bagi kami.
Satu-satunya makhluk yang melanggar hukum itu adalah manusia! Itulah sebabnya mengapa manusia menjadi sangat menakutka
n.”

Membacanya sempat tersela buku lain sehingga agak ‘kabur’, namun tidak memakan waktu lama untuk kembali mengingat jalan cerita.

Siddhartha memulai hari-hari sebagai petapa, kemudian bertemu dengan Dhepa, murid Naradatta. Dhepa memperkenalkan kenyataan bahwa bertapa sesungguhnya tidak semudah yang dibayangkan mantan calon raja itu, tapi sangat berat dan pedih. Bahkan ada yang tewas dalam bertapa, dan menurut Dhepa, dia mati mulia.

Sementara itu, putra Bandaka, Dewadatta, hidup terasing dalam bayang-bayang almarhum ayahnya yang jahat. Di sinilah terbukti bahwa stigma masyarakat yang kejam dapat menyeret seseorang untuk berbuat ‘apa lacur’. Telanjur ditempeli label negatif, Dewadatta berontak dan menerapkannya. Sangat mencabik hati, kala anak yang masih demikian muda merasa lebih kerasan hidup di bawah asuhan serigala.

Sama halnya dengan Dewadatta, yang menolak fitrahnya sebagai manusia namun terus didorong kembali ke ‘alamnya’, Siddhartha masih diserang godaan berliku. Masa lalu mengejarnya senantiasa, dan mengancam dengan sandera. Buku ini semakin memilukan, namun semakin menawan.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.