Writing Translator

March 03, 2011
2 mins

Zaman sekarang, multiprofesi sudah tidak asing lagi. Terutama bagi para pekerja lepas. Tidak jarang penulis beralih menjadi penerjemah atau merangkap, demikian juga sebaliknya. Memang dampaknya, bila sudah ‘kecanduan’ menerjemahkan, aktivitas menulis bisa ‘tersingkir’ atau sering tertunda.

Tentu saja tidak semua penulis bisa menjadi penerjemah, utamanya yang masih mengabaikan tata bahasa dan ejaan. Seperti halnya penulis, penerjemah hendaknya membekali diri dengan banyak membaca untuk mengasah kepekaan dan rasa bahasa. Membaca, sebagaimana kita tahu, adalah ‘sahabat baik’ aktivitas menulis. Setelah membaca, biasanya ada gagasan-gagasan baru atau perkembangan ide yang sudah ada sehingga kita tergerak untuk mencatat atau menuangkannya dalam tulisan. Tanpa bermaksud ‘mendiskriminasi’ tulisan yang kurang baik keterbacaannya, karena toh kita juga bisa belajar dari sana, buku-buku yang perlu diperbanyak adalah yang sudah rapi dan lancar. Mengapa? Kita mudah terpapar oleh apa yang kita baca.

Penerjemah yang gemar menulis relatif lebih mampu menyelami pesan yang dingin disampaikan pengarang. Tentu tidak harus menerbitkan buku atau menulis cerpen, jika waktu yang dimiliki terbatas. Salah satu yang efektif adalah menulis blog, utamanya mengenai proses kreatif menerjemahkan. Apa saja yang menyangkut proses kreatif ini?

1. Perkenalan dengan penerbit (jika tak keberatan diungkapkan). Mungkin karena melamar dan menempuh tes, pernah berdiskusi secara tak sengaja, dan sebagainya.

2. Waktu yang dihabiskan untuk menerjemahkan buku tersebut.

3. Kemenarikan bukunya. Karena kita mengagumi penulisnya, tema yang diusung, gaya bahasa yang kaya diksi, bab-bab yang pendek, dan masih banyak lagi.

4. Aspek yang menyulitkan. Bisa saja kita dituntut lebih banyak riset karena kosakatanya jarang ditemukan dalam kamus cetak atau latar belakang cerita yang mengambil tempo dulu.

Lumrah saja, bila genre atau gaya tulisan penerjemah terpengaruh pengarang yang karya-karyanya ia pernah garap. Saya sendiri merasakan bahwa kalimat-kalimat saya dalam email sekalipun menjadi lebih panjang setelah menyunting dan menerjemahkan naskah klasik.

Amat lain rasanya membaca terjemahan seseorang yang gemar membaca dan menulis, sekalipun baru pertama kali menerjemahkan. Perlu diingat pula bahwa penerjemah adalah ‘penulis kedua’. Penerjemah yang sudah menerbitkan buku atau menulis cerpen dan artikel di media harus melupakan gaya sendiri untuk sementara supaya dapat melebur dengan pengarang buku yang sedang dialihbahasakannya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.