Utang Si Penulis

December 14, 2010
56 secs

sumber gambar: 123rf.com

“Tolonglah, beri aku perpanjangan waktu,” ucapku parau.

Lelaki berwajah kelabu itu mendengus. “Lupakan saja. Semenit pun tidak akan kuberi.”

Peluh mulai membanjiri punggungku. Ia memandang berkeliling kamar kontrakanku yang sempit dan apak. Pandangannya tertumbuk pada laptop tua di sudut ruangan.

“Jangan, itu tidak berharga untukmu,”aku kembali meminta belas kasihan.

Ia berjalan ke meja tempatku menaruh laptop. Aku bangkit, namun kedua pria beringas di kanan-kiri sontak mencekal bahuku.

Lelaki berwajah kelabu menyentuhkan ujung jari ke meja yang berdebu. Kertas-kertas teronggok di sekitarnya, sinar bulan yang pucat menembus kisi jendela. Kacanya sudah pecah sebagian.

Sembari memandang ke luar, ia berkata, “Potong tangan kanannya.”

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
Temu Kangen
NEXT ARTICLE
Tujuh Bidadari