Tujuh Bidadari

December 14, 2010
2 secs

sumber: 123rf.com

Jaka Tarub terpana. Tujuh orang perempuan rupawan berdiri di hadapannya, di tepi sungai itu. Tatapan mereka semua menembus hatinya.

“Tidak usah repot-repot mencuri selendang kami, Jaka Tarub,” ujar salah seorang yang berambut wangi. “Kami semua bersedia ikut pulang dan menjadi istrimu.”

Lutut Jaka Tarub gemetar.

“Tunggu apa lagi?”

Pemuda itu tidak memercayai keberuntungannya. Senyuman tak kunjung terhapus sepanjang perjalanan meninggalkan sungai.

Setelah sampai, ia berbalik. “Inilah rumah..”

Ketujuh wanita cantik tadi sudah tiada. Yang mengelilinginya adalah monster. Gigi mereka berkilauan, taring dan kuku tangan bersaing tajamnya, semua menguarkan bau bangkai. Mata mereka sebelah saja, dengan bola yang besar sewarna darah.

“Panggang dia!”

“Isap saja darahnya!”

“Robek jantungnya!”

Jaka Tarub langsung dicabik-cabik. Hingga serpihan terkecil.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.