Tontonan Sampai Tengah September 2019

September 16, 2019
8 mins

 

Sumber: imdb

Dua tahun belakangan ini saya memang jarang nonton film lepas karena mabuk kepayang film seri. Sebagian sampai berbelas season, dan kadang saya tonton maraton. Soal itu akan saya ceritakan di tulisan terpisah. Tapi pada dasarnya, tiada yang abadi. Karena satu dan lain hal, hobi borong nonton seri saya sudahi. Di bawah ini beberapa film lepas yang saya tonton sejak tahun 2017, tidak urut.

Robin Williams: Come Inside My Mind

Mungkin ini film dokumenter pertama yang saya tonton secara serius banget. Walaupun labelnya dokumenter, biografi sang komedian mengalir sangat indah dan menyentuh layaknya film cerita. Saya jadi terkenang-kenang beberapa film kesukaan yang dibintangi Robin Williams, bahkan kelebat dirinya sebagai Mork di TVRI semasa saya kecil. Nggak sangka, sewaktu muda dia ganteng banget… bahkan mirip Michael Landon!:)) Skor: 4/5

Late Night

Harus diakui, akhir-akhir ini cari film Hollywood yang ringan sungguh sulit. Temanya kalau bukan dar-der-dor dengan bumbu politik atau semacamnya, thriller dicampur unsur psikologis, bahkan sekadar drama keluarga yang menghibur pun sukar ditemukan. Saya pilih film ini karena ingin lihat Emma Thompson tanpa dandanan ala Inggris jadul, menua dengan keren, tapi bukan di film eksyen. Tidak salah keputusan saya. Lucu, asyik, dan sama sekali tidak membosankan. Skor: 4/5

American Pastoral

Judulnya mirip buku, tapi sependek ingatan saya memang diangkat dari novel Philip Roth. Filmnya berat, rada muram, bahkan dikategorikan drama kriminal. Sudut pandang orangtua “awam” ketika anaknya terlibat aliran politik tertentu dan ujung-ujungnya menjauh dari keluarga. Akting semuanya bagus, termasuk Dakota Fanning yang bikin saya kesel karena gagap tapi memaki-maki. Jempol untuk penulis dan Ewan McGregor, yang dulu sering tertukar dengan Tobey Mcguire. Skor: 4/5

Stronger

Jake Gyllenhaal merebut hati saya dalam trailernya, jadi saya tonton deh. Perjuangan yang khas ketika seseorang tertimpa kemalangan hingga kehilangan anggota tubuhnya, merasa tidak berdaya, namun harus melanjutkan hidup sekaligus lelah disorot kamera. Sering kali yang bikin lelah mendampingi pasien adalah “rebutan” pendapat dengan sesama orang terdekat. Skor: 4/5

Searching

Idenya bagus, konsep media sosial yang begitu dekat dengan anak-anak sekarang juga bagus walau kadang bikin capek nonton dan memperhatikan layarnya. Hanya saja di bagian menuju klimaks pelakunya tertebak, dan saya rada kecewa dengan motif/kejadiannya. Skor: 3,5/5

A Quiet Place

Ekspektasi saya terlalu tinggi. Sebenarnya menarik, kalau “hantunya” tidak seperti itu. Sering saya lompat nontonnya. Skor: 2,5/5

Sleepy Hollow

Ini sebenarnya menuntaskan rasa penasaran waktu nonton di DVD player bareng para keponakan yang masih kecil dan ngajak ngobrol melulu. Idenya oke, dan menurut saya sih nggak serem. Skor: 3/5

Other People

Drama dengan ide sederhana, ada bumbunya yang bisa ditebak. Tapi menarik juga menyaksikan kisah penulis yang nggak ngetop-ngetop amat saat berkumpul dengan keluarga dan menemani ibunya yang sakit parah. Skor: 3,5/5

A Civil Action

Ini film lama, jadi boleh dong saya kasih spoiler. Sudah lumayan lama juga saya mencarinya karena seingat saya, jarang-jarang John Travolta memerankan pengacara. Ceritanya sangat berkesan, dipadukan dengan hasil baca sejumlah novel John Grisham bahwa jadi pengacara itu luar biasa jatuh bangunnya, harus mengeluarkan modal dulu, belum lagi kasus tuntutan massal yang menahun dan menguras segala sumberdaya. Saya terkenang terus adegan akuntan firma yang pangkas sana-sini untuk mengakali keuangan yang kembang kempis, usaha keras kepala sang pengacara untuk membela para korban, bahkan akhirnya yang sangat realistis. Kayak gini nih kisah inspiratif yang saya suka, bukan simsalabim bangkit. Salah satu film terbaik Travolta. Skor: 5/5

Nowhere/Secrets in A Small Town

Okelah, ide dasarnya tidak baru. Okelah, pelaku dan motifnya bisa ditebak. Tapi saya telanjur suka adegan pembukanya, ketegangannya yang tidak kalah dari Searching. Alurnya lumayan cepat dan menguras emosi. Skor: 3,5/5

Fast Color

Film fantasi kalem begini yang saya suka. Mungkin selera, mungkin usia (tapi pasti banyak seusia saya yang tidak setuju), saya kurang bisa menikmati film bertokohkan superhero yang sakti mandraguna dan tidak mati-mati seperti kecoak. Fast Color indah, musiknya lembut, dan idenya unik. Bagian awalnya mudah saya hayati, karena mengisahkan kekeringan di masa mendatang. Makanya nggak ada tuh, adegan berendam di bak atau mandi jibar-jibur. Skor: 4/5

55 Steps

Memang ada juga sih film Hilary Swanks yang kurang oke, tapi yang ini baguuuuus banget. Begitu konsisten suaranya, bahasa tubuhnya, ekspresinya, memerankan pengacara yang punya pengalaman sebagai perawat dan begitu sabar. Akting Helena Bonham Carter (tuh kan bisa nggak sama Johnny Depp mulu, bosen!) pun sangat menawan. Persahabatan pengacara dan klien yang menderita gangguan mental, berbau kisah medis yang tidak bikin kerut kening, perhatian yang seperti keluarga, sungguh mengharukan sampai film relatif panjang ini tidak terasa. Skor: 5/5

Nocturnal Animals

Film yang mencekam dan tragis. Kesel deh sama John Gyllenhaal di sini, ya artinya akting dia sukses. Lumayan lama saya nggak bisa melupakan ceritanya. Skor: 4/5

Snowden

Setelah lama mencari teks yang pas (tidak kecepetan/terlambat) dan gagal mengoprek programnya, saya pasrah deh nonton dengan hardsub bahasa Indonesia. Saya tidak akan bilang dapat di mana, tapi penerjemah yang iseng bikin saya nggak ngantuk menyimak istilah IT yang rumit. Kadang lagi berkerut kening, tahu-tahu penerjemah menjelaskan suatu idiom atau malah menambahkan komentar seperti, “Nih dia ngomong apaan sih?” Joseph Gordon Levitt masih berimej sendu di sini, tapi aktingnya boleh juga. Oh ya, penerjemah teksnya bukan pemilik nama samaran Lebah, Tawon, Kumbang, atau serangga lainnya:)) Skor: 4/5

One Flew Over The Cuckoo’s Nest

Tumben saya mau nonton film lama begini. Meski rada lambat, saya selesaikan juga entah dalam berapa minggu di sela-sela deadline. Saya kepingin tahu penggambaran rumah sakit jiwa di film klasik, dan akhir film ini keren. Skor: 3,5/5

Happy Death Day

Saya mau nonton setelah seorang teman meyakinkan bahwa pemeran utama ceweknya nggak cuma bisa jerit-jerit lalu mati. Kalau mau dibilang black comedy, ya pas juga karena seperti puter-puter di lorong waktu dan bangun lagi bangun lagi sambil capek membedakan ini sungguhan atau bukan. Ceritanya kreatif, bukan hantu-hantu melulu untuk menciptakan kesan horor, bahkan mengandung misteri yang bikin film ini beda. Kalau pelakunya sih, saya bisa nebak. Skor: 4/5

The Visit

Idenya bikin merinding. Apakah anak-anak sebaiknya tetap didampingi ketika hendak menginap di rumah kakek-nenek mereka? Ada bagian yang saya lompati karena bikin meringis dan rada ngilu. Tapi saya penasaran, ini horor bau hantu atau psikologis/thriller yang sadis. Lumayan juga setelah lama tidak nonton horor, walaupun penyelesaiannya terlalu sederhana dan ada beberapa hal yang menurut saya janggal. Skor: 3/5

Hereditary

Trailernya bagus, sudah lama pula saya tertarik karena ada profesi pengrajin boneka mini. Tapi ternyata itu bukan fokus ceritanya. Sebagai film horor, film ini sebenarnya lumayan bikin ngeri dan stres… di setengah awalnya. Sayang, setengahnya lagi jadi seperti horor yang lain. Menurut saya, sih. Skor: 3,5/5

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
Tontonan Selama Ini