The Untold Story – Business Moms

January 09, 2011
2 mins

Selalu senang memperoleh komentar dari pembaca, khususnya yang positif, tentu. Nunik, salah satu pembaca buku Business Moms yang memuat tulisan saya, Tahun demi Tahun Berkawan Kamus, terkikik geli dan berkomentar, “Itu waktu buka biro ya Mbak, untung nggak ada yang minta penggandaan uang.”

Butuh waktu agak lama bagi saya mengingat apa yang sudah ditulis. Oh, maksudnya ketika saya dan Mas Agus buka rental merangkap biro penerjemahan kecil-kecilan, ternyata ada konsumen aneh-aneh *untuk jelasnya, silakan baca buku tersebut*. Dalam umurnya yang relatif singkat, biro kami itu mengalami jatuh-bangun luar biasa. Bahkan kami sempat hampir menyerah, apalagi saya ditawari pekerjaan yang sangat menggiurkan secara materi. Pekerjaan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani dan cita-cita kami berdua.

Masih segar di ingatan, hari itu Jumat sekitar jam setengah sebelas siang. Seorang bapak berpakaian serba putih datang, minta diketikkan beberapa halaman. Alhamdulillah tidak makan waktu lama, meskipun masjid dekat dari lokasi tempat usaha kami. Sebelum beranjak pergi, bapak berwajah teduh itu berkata, “Sing tawakal, nya.”

Kami terpana sejenak, lalu mencoba mengejar bapak itu [yah, namanya orang terkesima..] untuk berterima kasih atas nasihat beliau. Ajaib. Sosoknya tidak terlihat di mana pun, pula mulut gang di dekat ruas jalan besar tempat kami berada.

Hati saya dan Mas Agus tergetar. Alhamdulillah, kami disadarkan untuk tetap tabah. Tawaran yang semula hampir diiyakan ditinjau ulang, dan…seperti inilah kami sekarang. Singkat cerita, kami diselamatkan.

Terima kasih Bapak yang baik budi, di mana pun Bapak berada dan darimana pun Bapak datang.

Terima kasih Nunik, karena membantu membuka kembali kenangan berharga ini. Semoga buku Business Moms menumbuhkan semangat dan bermanfaat bagi semua yang membacanya. Amin:)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.