The Secret History of the Lord of Musashi and Arrowroot

December 16, 2010
3 mins

Penulis: Junichiro Tanizaki

Penerjemah: Harisa Permatasari

Penyunting: Nadya Andwiani

Penerbit: Kantera, 2010

Tebal: 308 halaman

ISBN: 9789791924078

 

 

Menurut Nathan Uglow dalam Literary Encyclopedia, novel sejarah adalah genre yang mengandung indikasi adanya upaya untuk memadukan alur dramatis yang kuat dan psikologi manusia yang kredibel, dengan latar yang dibangun dari detail historis spesifik (biasanya merupakan hasil riset atentif mengenai peristiwa, lokasi, dan tokoh nyata, demikian pula budaya, kostum, dan cara berbicara).

 

Junichiro Tanizaki tersohor karena ciri hampir semua buah penanya yang cenderung kelam, menguak sisi kontroversial yang berkaitan dengan fantasi dan naluri seksual seseorang. Itu sangat terasa dalam The Secret History of the Lord of Musashi, novella besutan tahun 1935 yang beratar abad ke-16 di masa perang sipil. Bila kita tidak biasa oleh perilaku ganjil manusia, kita akan dibuat jeri sekaligus geli menyimak hasrat di luar kelaziman seorang samurai. Saat usianya masih belia, ia disodori satu fakta bahwa perempuan tidak ongkang kaki dalam pertempuran. Ada tugas yang disebut ‘mendandani kepala’. Silakan tebak sendiri pemilik kepala dan asal tempat memperolehnya.

 

Samurai muda itu, Hoshimaru yang kelak berganti nama menjadi Terukatsu, ketagihan dan melihat seorang perempuan jelita di sana. Ia mengintip setiap malam, berkhayal sekaligus cemburu pada kepala yang ditangani si cantik. Hasrat aneh itu membesar kala perempuan tersebut menghadapi kepala tanpa hidung.

 

Wajah yang cacat, bagi seorang pemimpin, adalah aib. Dari sanalah timbul gelora dendam yang lebih menyasar pada tindak mempermalukan seseorang, baik dalam kondisi hidup atau mati. Kegemaran tak wajar Terukatsu kian berkembang, ditambah hadirnya seorang Lady Kikyo yang juga menyimpan kesumat pada suaminya sendiri. Eksperimen narasi Tanizaki, salah satu penulis Jepang modern yang paling diperhitungkan setelah Natsume Soseki, menjadikan kisah samurai sadis lagi masokis yang bermuatan sejarah tersebut terasa berat untuk saya.

 

Arrowroot cukup dikenal di bidang pertanian organik, utamanya menyangkut tepung gasol. Novella ini lebih ringan, meski tetap menggunakan narator ‘saya’, mengesankan terpecah dalam pemaparannya sehingga menyerupai catatan, bukan fiksi. Aneka ragam unsur budaya Jepang terselip di sini, semisal jiuta (jenis permainan musik abad ke-17) dan joruri (naskah teater boneka Jepang).

 

Ihwal bobot dan kreativitas, The Secret History of The Lord of Musashi and Arrowroot amat perlu diapresiasi. Namun sejujurnya, tanpa kontribusi penerjemah dan editor, saya akan kian kesulitan mencerna buku ini.

 

Rujukan: http://www.litencyc.com/php/stopics.php?rec=true&UID=+1213

 

www.botanical.com/botanical/mgmh/a/arrow064.html

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
Mitsuko