sumber: amartapura.com

Penulis: Mary Higgins Clark

Penerjemah: Ade Dina Sigarlaki

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2002

Tebal: 409 halaman

ISBN: 9796867273

Mary Higgins Clark bisa disetarakan dengan Sidney Sheldon yang sama-sama berkecimpung di genre fiksi thriller. Sheldon ‘apes’ di kancah kepembacaan Indonesia lantaran kulit muka buku-bukunya menampilkan wajah molek wanita sehingga dikira menulis novel roman yang dipandang tidak ‘cowok banget’, di samping namanya yang kerap dikelirutafsirkan sebagai perempuan, sedangkan MHC ‘naas’ di sampul yang bisa jadi kurang menarik bagi peminat buku karena kelewat sederhana. Inilah barangkali penyebab buku-buku MHC sudah mendarat di rak obral dan beberapa lainnya bahkan sukar diperoleh, termasuk Sindrom Anastasia yang saya buru selama lebih dari tiga tahun atas rekomendasi Nad. Seketika saya penasaran, apalagi format buku ini menarik bagi penggemar kumpulan cerpen seperti saya.

Sindrom Anastasia terdiri dari lima novelet dan dengan cerdik, MHC mengombinasikan pelbagai menu sehingga kelima cerita tersebut benar-benar berbeda satu sama lain. Seperti dipaparkan di sana, thriller adalah genre yang luas serta wajib berplot cepat. Poin khas lainnya, yang amat terasa dalam karya MHC satu ini, ialah latar yang sedikit (tidak sering berpindah lokasi) dan rentang waktu yang singkat sehingga ketegangannya tidak pecah.

Apa saja ramuan ketegangan MHC dalam buku ini? Fantasi, crime thriller, psychological thriller, drama, sedikit romansa. Protagonisnya rata-rata wanita, akan tetapi di cerita pertama, ia menampilkan pula antagonis dari kaum Hawa.

MHC menyodorkan aneka motif seseorang berbuat kejahatan:

1. Dendam.
Sindrom Anastasia memadukan dendam dengan sumpah. Seorang lady melontarkan ikrar akan membalas kekejaman yang diterimanya kepada keturunan musuh. Dendam pula yang membuat Jimmy Cleary, seorang aktor berbakat, menghabisi sutradaranya karena mengalihkan peran impian kepada orang lain dalam Pandangan Ganda. Nasibnya yang tersaruk-saruk menggapai karier menurut Jimmy adalah kesalahan Caroline.

2. Obsesi.
Seorang murid yang tergila-gila pada gurunya dan menginginkan sang guru menjadi istri bukan hal baru, namun bagaimana kalau si murid membuntuti dan mencari mantan gurunya selama bertahun-tahun? Dalam Teror Menghantui Reuni Sekolah, reuni, yang acap dipandang sebagai arena terkuaknya pintu masa lalu dan tidak senantiasa menggembirakan, menjadi elemen penting. Lebih-lebih murid tidak waras itu, Donny Rubel, menyimpan dendam masa kanak-kanak karena selalu ditertawakan ibunya sendiri dan tidak punya teman.

3. Prasangka.
Hal sepele dapat berkembang menjadi kecurigaan, begitulah tema Hari Keberuntungan. Ceritanya membuat saya sakit hati, tetapi justru di situlah keunggulan MHC yang berani mengulang-alik pengisahan sehingga benar-benar tidak menyerupai karyanya terdahulu. Pesan yang saya tarik dari novelet ini: jangan coba-coba membuat kejutan atau berahasia dari pasangan. Akibatnya bisa fatal.

4. Penolakan.
Jamie, gadis cilik yang dilarikan ayahnya setelah berpisah dari sang ibu, disembunyikan selama bertahun-tahun dan membuat Susan, wanita yang melahirkannya, nyaris gila. Satu titik terang muncul kala Tina, istri baru si mantan suami, mengikutsertakan Jamie untuk berfoto di majalah. Justru ayahnya menjadi berang dan Tina melampiaskan pada Jamie dengan meninggalkannya di jalanan. Di sini cerita digarap lebih lunak, agaknya MHC memperhatikan betul agar pembaca tidak melepaskan buku ini sampai halaman terakhir namun tidak dibuat kelewat letih dengan perasaan tegang terus-menerus.

Novelet dengan bintang terbanyak ialah Sindrom Anastasia. Perpaduan psikoanalis, kriminal, dan dunia profesi seorang penulis buku sejarah merupakan sajian luar biasa segar dibandingkan buah-buah pena MHC yang sudah saya baca serta menunjukkan ketekunan sang pengarang melakukan riset mendalam.

Saya juga terpukau oleh Pandangan Ganda, sepertinya cukup jarang MHC menggunakan unsur horor berbau arwah. Sudah banyak saya dengar ihwal kelekatan anak kembar, namun di sini MHC menekankan persaudaraan yang mengharukan. Berikut kutipan berkesannya:
Itu bukan salahmu, tapi salahmu kalau kau membiarkannya membunuh lagi. Jangan biarkan ini terjadi pada Mom dan Dad. Jangan biarkan ini terjadi pada Sean. Hiduplah sampai tua untukku. Punyai banyak anak. Namakan satu seperti namaku. Kau harus hidup. (hal. 351)
Dari novelet ini pula, saya belajar memberi isyarat kepada pasangan apabila terancam bahaya karena biasanya pasangan tahu persis diri kita sampai yang sekecil-kecilnya.

Seperti biasa, novel MHC membuat saya sukar berkedip dan enggan menunda berlama-lama. Saya merekomendasikan buku yang sulit didapat ini untuk dicetak ulang oleh Gramedia.

Terima kasih banyak, Halaman Moeka dan Retno atas jerih payahnya mencarikan buku ini ^_^

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

NEXT ARTICLE