Tertolong ASI

January 10, 2011
4 mins

Tatkala memperoleh kepercayaan untuk mengalihbahasakan buku Harun Yahya lagi, saya bersukacita sebab topiknya menyangkut hormon. Sebuah misteri yang kerap menghinggapi kepala, khususnya dalam serba-serbi kewanitaan. Saya mengira paling tidak akan memperoleh jawaban mengenai mulas-mulas dan emosi yang menggelegak melebihi takaran normal apabila tengah kedatangan tamu bulanan.

Bahwa gaya bahasa Harun Yahya teramat mendetail [sehingga kerap mengulang bagian-bagian yang sebenarnya telah dijelaskan], saya sudah hafal. Namun menghadapi naskah kali ini, tak urung saya teringat perasaan sebal pada pelajaran biologi semasa SMP [tanpa mengurangi rasa hormat kepada mendiang guru saya]. Uraian perkara hormon dimulai dari sel-sel otak, merambat ke pembuluh, kemudian mata bagaikan kabur disuguhi aneka istilah kimia. Perlu diketahui, di bangku SMA saya memilih jurusan IPS dengan sangat bersukacita karena tak perlu lagi bersua mata pelajaran yang hanya sempat diakrabi tabel unsurnya itu. Sembari mengerjap-ngerjapkan pandangan, terlintas dalam benak, “Apakah Tuhan sedang menegur saya karena kebandelan dahulu?”

Harus diakui, kemampuan menerjemahkan sekitar sepuluh halaman per hari tak dapat dipraktikkan pada saat itu. Di samping mengolah kalimat dan membacanya berulang-ulang (dengan kata lain, saya menjadi ‘kelinci percobaan’ selaku konsumen dari kalangan awam), koneksi Internet harus dipertahankan sedemikian rupa demi menggali rujukan. Teman-teman yang berlatarbelakang akademis eksak tak selalu dapat diandalkan. Bahkan lucunya, rata-rata mereka mengaku kurang meminati biologi. Baiklah, artinya saya tidak sendiri.

Saya meyakini bahwa bekerja dengan melibatkan hati akan menghasilkan karya yang maksimal. Toh, rasanya tak dapat dijabarkan kala menekuri teks yang ditaburi simbol kimia dan menjumpai kata ‘molekul’ lebih dari sepuluh kali sehari. Kala itu, saya ‘mematikan’ emosi sebab bila tak menundukkannya, target harian tak akan tercapai.  Doa tak putus-putus dilafalkan agar stamina bertahan, selain kesabaran ekstra tentu saja.

Agaknya sudah menjadi kebiasaan, menjelang paruh terakhir naskah, kejenuhan menghantam tanpa ampun. Selalu saja ada alasan untuk break lebih lama dari semestinya, antara lain pemadaman bergilir. Kendati hanya sepuluh menit, bahkan kadang-kadang kurang, mood pasti terpengaruh. Namun saya telah sampai pada suatu sub bahasan yang cukup menarik perhatian yakni peranan hormon dalam produksi air susu ibu.

Mungkin karena kakak saya baru saja melahirkan dan kerap menghamburkan cerita mengenai ini-itu menyusui, saya dapat mengerahkan cinta sambil menyimak materi tersebut. Waktu itu, saya diuntungkan oleh bahasa super sederhana yang memaparkan bahwa ASI dihasilkan dan dihentikan sementara tepat pada waktunya. Informasi perihal pertemuan sel telur dan sperma yang langsung memproses janin dalam hitungan detik membuat saya kian memahami mengapa dokter kandungan menyatakan kehamilan seorang wanita telah berusia empat minggu pada bulan kedua pernikahannya. Dengan kata lain, bukan karena hamdun alias hamil duluan.

Topik menyangkut ASI dan tetek-bengeknya ini tak sampai seperempat bagian buku, akan tetapi cukup memompa energi untuk melanjutkan pekerjaan. Di luar dugaan, saya mampu menghayati juga. Bila bergurau dengan editor dalam obrolan ringan di Yahoo! Messenger, tak satu-dua kali saya lontarkan, “Maklum, pengaruh hormon.” Anggap saja saya tengah memerankan seorang tokoh dalam film dan melakukan pendalaman supaya benar-benar ‘keluar’ dari Rini yang sesungguhnya.

Masih ada kejutan lain. Naskah yang tak dapat dikatakan ringan sama sekali itu selesai dialihbahasakan sehari sebelum tenggat. Alhamdulillah, keajaiban hormon menular ke tangan penerjemahnya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses for this article

  1. andar
    on
    January 10th, 2011

    Mbak, tolong terangkan secara singkat tentang ASI dihasilkan dan dihentikan sementara tepat pada waktunya. Pengen tahu neh hehehe…

    • Rini Nurul
      on
      January 10th, 2011

      Pertanyaan sulit, Ndar:D
      Kubuka-buka filenya dulu ya, ini kuterjemahkan tiga tahun silam jadi sudah lupa.