Tergelak dan Terharu oleh Diary si Bocah Tengil 2: Rodrick yang Semena-mena

January 09, 2011
5 mins

Penulis: Jeff Kinney
Penerjemah: Ferry Salim
Penerbit: Atria
Cetakan: I, November 2009
Tebal: 219 halaman
ISBN: 978-979-1411-22-6

‘..ada sebagian orang yang tidak bisa kaupuaskan hatinya.’ [hal. 175]

Pernah mendengar bahwa anak tengah, tepatnya anak kedua dari tiga bersaudara acap kali ‘bernasib malang’? Greg Heffley salah satunya. Alih-alih mendapat contoh yang baik dari kakaknya, Rodrick, ia justru selalu berada di bawah tekanan. Rodrick sama sekali bukan profil anak sulung yang patut diteladani. Ketika disuruh ibunya menjemput Greg ke sekolah, adiknya harus duduk di belakang van bersama seperangkat alat musik dan berdebam-debam sepanjang jalan. Sewaktu Greg menyampaikan bahwa cara Rodrick menginjak rem membuatnya menderita, kali lain pemuda itu mengubah siasat: ngebut setiap menemui polisi tidur.

Greg juga ketiban pulung ulah Rodrick di masa lalu. Ia harus duduk di kursi sebelah meja Mr. Huff, guru sejarah, yang sangat hapal kebiasaan buruk sang kakak. Demikian pula dalam kelas pra-aljabar, Greg memperoleh pengawasan ekstra hanya karena menjadi adik Rodrick Heffley.

Bukan hanya dirinya yang memperoleh masalah, namun juga Dad. Ketika Dad menemukan kesalahan pada tugas laporan buku Rodrick, antara lain ia menyatakan bahwa Abraham Lincoln menulis buku To Kill A Mockingbird, siswa SMA itu sedemikian rupa menciptakan suasana sehingga Dad menulis ulang tugas tersebut dan diganjar nilai A tanpa merasa bersalah sedikit pun. Bukan berarti Dad tidak berusaha tegas. Namun Rodrick berulang kali mengajukan pertanyaan saat menghadapi komputer [digambarkan dengan kalimat ‘ia mengetik satu huruf satu menit’], sampai-sampai Dad menyerah.

Komunikasi yang tidak terlalu sehat merupakan persoalan Dad dengan Mom. Dad harus berpura-pura tidur agar bisa menyelinap ke ruang bawah tanah menyalurkan hobinya, karena Mom selalu memaksa Dad menonton film komedi romantis yang sama sekali tidak disukai sang suami. Mom juga yang membela Rodrick saat Dad mengeluhkan berisiknya musik yang dimainkan si anak sulung bersama bandnya dan mengundang beberapa remaja nongkrong di jalur masuk mobil. Dengan cara yang menggelitik, Jeff Kinney memaparkan kecemasan khas orangtua melalui kacamata Greg.

‘Bill tidak memiliki pekerjaan, dan dia masih tinggal bersama orangtuanya walaupun dia sudah berusia tiga puluh lima tahun.
Aku yakin Dad paling takut pada kemungkinan Rodrick mengangkat Bill sebagai tokoh panutan dan ingin mengikuti jejak Bill.
…Alasan Rodrick mengundang Bill bergabung dengan bandnya adalah karena Bill terpilih sebagai ‘Calon Bintang Rock’ saat DIA masih di SMA’.
[hal. 35]

Mom sempat mengupayakan perdamaian antara kedua putranya, antara lain dengan membelikan mainan Magick and Monsters agar mereka dapat berinteraksi ‘normal’ serta menikmati imajinasi masing-masing. Tetapi Rodrick langsung menyuarakan idenya, “Kau dan kelompok teman anehmu jatuh ke dalam lubang yang penuh dinamit dan kalian meledak. Tamat.” [hal. 125]

Bukan berarti hubungan Greg dan adiknya, Manny, manis-manis saja. Ia memperoleh ilham dari sang kakak untuk melampiaskan kekesalan kepada bocah berusia tiga tahun itu. Jika dulu dirinya sering dikata-katai Rodrick, Greg hendak berbuat serupa terhadap Manny. Payahnya, si bungsu ini pengadu. Ia juga kerap berargumen ‘aku masih kecil’ bila melakukan kenakalan sehingga lolos dari hukuman Mom.

Kendati berformat novel kartun, buku ini tidak membidik pembaca anak-kanak dan remaja saja. Orang dewasa, khususnya yang berpredikat ayah dan ibu, sangat disarankan membacanya. Tilik misalnya, betapa perilaku orangtua dapat menciptakan ide ‘berbahaya’ di kepala anak. Kala dimarahi ibunya lantaran berbohong, Greg memutuskan untuk berlaku jujur tak kenal waktu. Termasuk saat Mom dihubungi seseorang melalui telepon dan tidak ingin menerima panggilan itu.

Hubungan persaudaraan terbilang cukup kompleks. Dad sendiri tidak bisa dikatakan rukun dengan keluarganya. Ia membenci adiknya sebab menakut-nakuti Manny sewaktu berlatih menggunakan kamar mandi dan terpaksa memperpanjang masa pemakaian popok. Realitanya, interaksi yang sering bisa memicu gesekan. Disadari atau tidak, orangtua kelak akan menanggung akibat bila tidak peka dan segera mengambil tindakan yang perlu.

Membaca buku ini akan membuat kita tersenyum, terbahak, tertegun, malu hati, dan merenungkan kekonyolan diri sendiri. Satu bukti kuat bahwa buku yang kocak tetap bermuatan pesan moral positif, bahkan sangat kentara dan mendidik. Empat bintang untuk Diary Si Bocah Tengil 2.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.