Ten Things I Hate About Me

February 21, 2014
3 mins

Penulis: Randa Abdel-Fattah

Penerjemah: Oktarina Prasetyowati

Editor: Anggita Gumilar

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Tebal: 312 halaman

 

Randa Abdel-Fattah masih konsisten dengan penokohan karakter sentralnya, gadis muslim di Australia. Bedanya dengan Does My Head Look Big in This?, Jamilah sang tokoh utama tidak berjilbab. Dia menghadapi problematika khas remaja, bingung akan jati diri, memilih merahasiakan latar belakangnya karena takut tidak diterima, dikait-kaitkan dengan teroris dan anggapan rasis lain, sehingga malah tertekan sendiri.

Poin plus yang saya bubuhkan karena novel ini mengandung kerisauan seorang ayah tunggal yang membesarkan tiga anak. Berikut kutipan-kutipannya yang membuat saya sulit berhenti membaca sekaligus merenung:

 … setelah ibuku meninggal, ayahku hancur. Apakah kau pernah bertahan dalam diam? Diam yang memberatkan seisi rumah? Seperti udara yang lembap, kelam dan tebal, mengisap seluruh bunyi dan suara dari sebuah tempat. Dad tidak pernah berbicara pada kami. Lalu suatu hari dia mencuci pakaian dan menemukan jepit rambut lama milik ibuku yang terjatuh di belakang mesin cuci. Dia hanya berdiri sambil menangis. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, tapi sejak itu dia mulai memandang mata kami lagi. Dia memperoleh kembali suaranya dan tidak pernah berhenti bicara sampai sekarang.

 

Kenangan Hakim akan mendiang istrinya

Tapi di depan orang yang paling dekat dengan kami, kami merasa tidak perlu berpura-pura.

 

Yang bikin mata saya berkaca-kaca

Ayahku seperti tidak cukup istirahat semalam. Dan terpikir olehku dia tidak memiliki seorang pun yang memeluknya di tempat tidur. Ketika dia berada di tempat tidur dalam keadaan marah atau kecewa pada kami, dia tidak punya seorang pun untuk mengeluh atau bercerita. Di antara percekcokan, bekerja, membayar rekening, dan menghadapi tiga karakter kami, pasti ada rasa kesepian.

 

Kekhasan Randa Abdel-Fattah adalah gaya tuturnya yang lincah dan tidak melupakan humor sehingga remaja dan orang dewasa dapat menikmati karyanya. Saya tersenyum-senyum membaca ayah Jamilah mengetik SMS dengan susah payah, kelakar antara tiga bersaudara yang sebenarnya akrab dan saling menyayangi, kedewasaan kakak-kakak Jamilah ketika mencoba mengerti ayah mereka. Lewat Timothy, tokoh favorit saya di buku ini, penulis menunjukkan trik-trik agar remaja santai, percaya diri, dan tidak terpengaruh penindasan verbal di sekolah.

Ayahmu menghabiskan energi dan tujuan hidupnya untuk menafkahi kalian. Dengan kematian ibumu, peran tersebut tergabung. Tidakkah kau berpikir dia takut?”

“Takut? Takut apa?”

“Takut gagal, Jamilah! Takut menjadi orangtua tunggal.”

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    February 21st, 2014

    menarik, wajib di catat di daftar buku yang mau di buru 🙂
    makasih rin :))

    • Rini Nurul
      on
      February 21st, 2014

      Sami-sami Ka, semoga berhasil berburunya:D

  2. on
    February 21st, 2014

    I think I’ll love this book 🙂

    • Rini Nurul
      on
      February 21st, 2014

      I bet:)