Tempat Gunung Bertemu Rembulan

January 09, 2011
35 secs

“Kau tahu Naga, mewujudkan sehidup-semati itu sangat sulit,” ucap Ikan Mas Koki. “Karena itu aku tidak mau mengucapkan ikrar.”

Naga mengembuskan napas yang mulai tersengal. “Aku akan pergi lebih dulu. Maukah kau berjanji menjaga diri baik-baik?”

Ikan Mas Koki berkecipak di air, matanya berbinar. “Gunung Nirbuah membutuhkanmu. Kau lebih mampu melindungi tempat ini daripadaku.”

Mata Naga mengerjap lemah.

“Kau harus mau menelanku, Naga,” pinta Ikan Mas Koki. “Kau harus terus hidup.”

“Jadi kau ingin meninggalkanku?!” suara Naga meninggi. “Mana mungkin aku tahan melihatmu pergi, apalagi dengan cara begitu.”

Ikan Mas Koki tersenyum. “Aku akan mati bahagia, karena dapat memberimu kekuatan. Dan aku tahu, kau tidak akan melupakanku.”

Dengan hati-hati, Naga mendekatkan kepala dan membuka moncong. Pelupuk hewan besar itu basah saat Ikan Mas Koki meluncur ke dalam perutnya.

“Jangan bersedih lagi, Naga.”

Naga menengadah. Kakek Rembulan duduk di atas awan, menatapnya lembut.

“Aku sendirian.”

“Tidak, lihatlah ke langit.”

Di wajah purnama yang bulat penuh, terpantul bayangan Ikan Mas Koki. Naga terperangah.

“Sahabatmu kuletakkan di sana agar kalian dapat bertemu setiap bulan purnama,” tutur Kakek Rembulan. “Lanjutkan tugasmu di Gunung Nirbuah ini, Naga. Tunjukkan pada Ikan Mas Koki bahwa kematiannya tidak sia-sia.”

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.