Satin Merah

Penulis: Brahmanto Anindito & Rie Yanti

Penerbit: Gagas Media

Tebal: 314 halaman

Cetakan: I, 2010

ISBN: 9789797804435

Harga: Rp 37.000,00

Tapi, kamu juga harus menghindari bergaul dengan orang-orang yang hobi berkata negatif. Termasuk mereka yang suka mengeluh, pesimis, menyumpah-nyumpah, berkata jorok, merendahkan. Hindari, atau hatimu akan jadi lebih mudah busuk. (hal. 156)

Salah satu indikator buku bagus adalah berebutannya kalimat-kalimat pembangun ulasan tatkala belum rampung dibaca. Dan itulah yang saya alami saat mengonsumsi novel Satin Merah.

Ketika berkenalan dengan Nadya, saya dituntun ke area yang jarang dijejak. Profilnya yang pemberontak namun berprestasi cemerlang, khas remaja yang tengah haus akan hal-hal baru dan mengeksplorasi diri guna memperoleh pengakuan sekitar, menyuguhkan gagasan segar kedua penulis bahwa tidak selamanya karakter sentral harus berlumur keistimewaan. Justru dari sosok yang cenderung kelam, kendati tetap berparas elok (menurut novel ini, Nadya adalah Julie Estelle versi malas dandan), kita dapat meresapi potret hidup yang manusiawi dan merenungkannya kemudian.

Ambisi Nadya untuk merebut lampu sorot kedua orangtuanya dari sang adik, Alfi, begitu menggebu dan mewujud dalam ide nyeleneh untuk dituangkan dalam makalah sehubungan Pemilihan Pelajar Teladan Se-Bandung Raya, yakni telaah Sastra Sunda. Inspirasi yang mampir secepat ledakan petir dan mengundang pro-kontra tersebut menyeret Nadya dalam jalur minat yang unik, menyerapnya dan bergaul dengan orang-orang yang sama sekali berbeda. Layaknya pendatang baru di dunia penulisan, ia berupaya memetik bimbingan para pakar. Darah belia yang mendidih menyulitkan Nadya menerima kritik dari mentor pertamanya, sastrawan Sunda Yahya Soemantri. Meskipun demikian, kegandrungan Nadya terhadap sastra Sunda bertambah besar, alih-alih menyurut.

Dengan piawai, novel ini berbicara jernih mengenai misi yang diusung kedua penulis yaitu budaya daerah yang hampir punah. Segenggam pengetahuan sejarah yang verbal namun tidak kaku ditebarkan dalam percakapan antar karakter. Akan tetapi, sebagaimana tertera dalam Catatan dari Penulis, Brahmanto Anindito dan Rie Yanti tidak ingin bermimpi muluk. Agaknya karena itulah, mereka mengawinkan figur remaja dengan problematikanya, gelombang thriller, percik-percik kepenulisan, dan sastra Sunda tadi. Terbukti kembali bahwa fiksi yang tidak menyenggol romansa tetap hadir menawan. Keremajaan Nadya tidak tampil dalam bentuk bahasa gaul, kecuali dalam SMS-SMS-nya, melainkan kekaribannya dengan teknologi.

Mereka yang menyandang predikat penulis atau berkeinginan menggeluti dunia tersebut amat disarankan membaca Satin Merah. Banyak ilmu yang bisa direguk, mengalir dalam bahasa jenaka dan renyah, antara lain ucapan-ucapan Nining Tresna Munandar, karakter favorit saya sebagai berikut:
Jangan pernah berpikir jadi penulis karena pengin bersantai-santai. Semua profesi, dokter kek, pilot kek, pengacara kek, seniman kek, kalau etos kerjanya nyantai ya selamanya melarat. (hal. 150)

Bab 38 berpotensi membetot animo pembaca, utamanya yang kerap mempertanyakan penulis terkait mata pencaharian. Secara arif, setelah mengungkap berbagai segi, Nining berkata, “Seseorang nggak akan bisa jadi penulis terbaik lho kalau motivasinya uang.” (hal. 149). Lebih lanjut ia menganjurkan, “Selalu berangkatlah dari cinta. Sebarkanlah cinta. Seraplah cinta. Percayalah, alam semesta ini takkan pernah kehabisan daya cinta. Karena, Tuhan pun menciptakan kita dengan bahan baku cinta.” (hal. 156-157).

Novel yang memancarkan kekuatan dialog ini tak urung mengundang kegelian, semisal tatkala Yahya Soemantri berujar, “Itu sama saja dengan Eneng nanya bobotoh (penggemar) Persib, “Bagaimana Persib menurut Anda?”” (hal. 40)

Karya yang berbobot sekalipun tidak luput dari kekurangan. Saya sempat didera kecemasan kala konflik menukik pada klimaks plot, terlebih pembaca dihadapkan pada dua isi kepala dengan skenarionya masing-masing. Walaupun saya menyimpan pertanyaan mengenai pembunuhan yang terjadi serta novelet berbahasa Sunda yang dijuduli dalam bahasa Indonesia, keelokan Satin Merah yang berpondasikan riset cermat ini tidak luntur karenanya. Saya masih terpukau oleh petikan puisi berikut:
Da nu pangnyerina dina kahirupan mah lain pati
Tapi dilalaworakeun (hal. 61-62)

Satin Merah tidak mengajak kita bersendu-sendu, meski banyak ruang yang memedihkan hati. Kekompakan duet penulisnya menakjubkan, ibarat dua orang yang bercakap-cakap, kalimatnya berkesinambungan dalam satu sistematika pemikiran. Saya sempat terayun-ayun dalam bahasa yang cair, ‘ditampar’ mengenai kesundaan saya yang meredup, dan menikmati halaman demi halaman yang mencekam.

Terima kasih kepada kedua penulis, yang memenuhi dahaga saya di padang bacaan karya pengarang negeri sendiri.

Sekadar catatan: proses pembibitan novel ini dapat ditengok di situ.

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.