Teka-teki Kiki Strike

January 08, 2011
5 mins

Judul : Kiki Strike; Petualang Kota Bayangan
Pengarang : Kirsten Miller
Penerjemah: Anggraini Novitasari
Penerbit : Dastan
Tahun : 2009
Tebal : 376 Halaman
ISBN : 978-979-3972-65-7

Ananka Fishtein terombang-ambing di antara dua kelompok besar yang bersekolah di Atalanta, New York. Ia bukan gadis kaya raya, seperti Sidonia Galatzina yang cantik, populer, sekaligus bermulut keji dan senantiasa diikuti Kelompok Lima. Mereka kerap melontarkan cemoohan kepada gadis beasiswa, siswa-siswi pintar yang rata-rata berasal dari keluarga menengah ke bawah dan tidak mengenyam gaya hidup gemerlapan seperti Sang Putri, demikian sebutan Sidonia. Ananka berhasil meloloskan diri dari pengamatan Kelompok Lima, sampai akhirnya terjadi pencurian cincin berlian Sang Putri dan ia dituduh sebagai pelaku karena berbuat ceroboh.Sebelum menjadi bulan-bulanan, meski terbukti tidak bersalah, Ananka ditolong oleh seorang gadis super misterius. Tubuhnya sangat kecil dibandingkan anak perempuan sebayanya, wajahnya pucat bak hantu, dan rambutnya putih semua.

Gadis eksentrik itu bernama Kiki Strike. Penampilannya yang tidak biasa serta sikapnya yang lebih banyak diam mengundang rasa ingin tahu Ananka. Ketika ditanya mengenai cita-cita bila dewasa nanti, Kiki menjawab, “Ingin menjadi berbahaya.” Hampir sama dengan ‘ketidaklaziman’ impian Ananka, yakni menjadi ahli biologi laut yang meneliti cumi-cumi sehingga ia dijuluki Sang Putri ‘Gadis Cumi’. Rasa penasaran Ananka belum terlunaskan, namun ia bersedia digaet Kiki untuk bergabung dengan kelompoknya, Irregular. Di sini ia bertemu Oona Wong, seorang hacker kampiun, Luz Lopez yang bertalenta mekanik hebat, Betty si pakar menyamar, dan DeeDee yang menghabiskan waktu di laboratorium kimia sehingga mahir berurusan dengan aneka racikan. Misi mereka adalah menyelidiki Kota Bayangan, sebuah tempat penuh teka-teki yang ditemukan Ananka pada perjumpaan perdananya dengan Kiki.

Menyidik gagasan dasarnya, gadis-gadis remaja menghimpun kelompok detektif, novel yang dilabeli fiksi fantasi di kulit belakangnya ini sudah maju satu langkah. Sudah biasa kita dapati fiksi misteri remaja yang karakter utamanya terdiri dari anak laki-laki saja atau gabungan lelaki dan perempuan. Karakter Ananka yang menjadi narator sedari mula telah memiliki atribut serba unik. Kedua orang tuanya menghidupi diri dan keluarga dengan bekerja serabutan serta sibuk ‘memanfaatkan’ dana perwalian warisan untuk sekolah dan sekolah lagi. Rumah keluarga Fishbein sarat buku yang menjulang sampai menara, bahkan di dapur dan kamar mandi. Untuk anak berumur empat belas tahun, Ananka merupakan lautan pengetahuan yang luas. Ia menelisik tikus dengan membaca buku khusus berjudul The Devil’s Army, yang memaparkan berbagai aspek keunggulan hewan pengerat tersebut. Bukan berarti gadis-gadis lain alergi terhadap aktivitas berwawasan. Rumah Ananka menjadi tempat rapat sekaligus wahana mengail rujukan sebanyak mungkin sesuai kebutuhan misi Irregular.

Selaku pimpinan, Kiki dihadirkan dengan segala pernik yang mengundang tanda tanya. Kawan-kawannya memiliki sisi spesial masing-masing, sebut saja Betty yang merasa nyaman bila muncul di depan umum sambil menyamar sehingga orang tidak tahu persis bagaimana sosok gadis ini sebenarnya, juga Oona yang menggunakan dana untuk membuka salon kuku. Ia tidak menghabiskan waktu seharian untuk kegiatan seputar dandan semata, melainkan memasang mata dan telinga atas keterangan yang dibocorkan para tamunya. Mereka merasa leluasa sebab anak buah Oona rata-rata beretnis Cina dan dianggap tidak fasih berbahasa Inggris. Oona dan krunya harus kerap mengelus dada oleh perilaku klien yang mengesalkan, tetapi itu sebanding dengan aneka info yang berhasil mereka raup.

Kirsten Miller terbukti menulis dengan riset mendalam. Ia tidak melupakan fakta bahwa para anggota Irregular masih belia, antara lain menyisipkan ibu Luz yang menghukum putrinya jika pulang terlambat. Dialog-dialog antar karakter menjadikan fiksi detektif ini tetap segar kendati mengusung nuansa yang kelam seperti Kota Bayangan itu sendiri. Cerita yang mengasyikkan membuat plot demi plot mudah disantap, terlepas dari font-nya yang relatif mungil. Masih tersimpan bumbu action, ketegangan, saling curiga, bukan hanya soal identitas Kiki Strike, tetapi juga apa yang terkuak dari penelusuran Kota Bayangan ketika serangkaian peristiwa kriminal terjadi.

Jadi, apakah Anda masih berpendapat bahwa novel detektif remaja yang seru harus ‘berbahan dasar’ kisah maskulin dan tidak bersentuhan dengan gadis-gadis? Simak sepak terjang Kiki Strike yang disertai tips-tips menyamar, membuntuti orang secara aman, melawan saat diculik, dan rahasia yang terungkap kemudian. Pesona lain terdapat pada kemisteriusan Kirsten Miller, yang hanya membubuhkan profil sangat pendek tanpa foto dan data lainnya. Sebuah bacaan yang luar biasa memikat.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.