Sebenarnya ini mungkin ‘sepele’ bagi penerjemah yang sudah berpengalaman. Namun karena saya sering mendapat pertanyaan yang kira-kira berbunyi, “Bilangnya gimana ya kalau begini?” berikut saya kutip beberapa contoh sependek pengalaman saya pribadi.

Saat melamar sebagai editor, tapi dikirimi materi tes menerjemahkan.

Dear Mbak/Mas (nama editor),
Terima kasih atas email tesnya.
Namun saya ingin menanyakan dahulu, apakah tes editor freelance disamakan?
Sebab saya melamar sebagai editor:)

Terima kasih

Ketika melamar lowongan yang diperoleh di forum/komunitas/jejaring

Dengan hormat,
saya tertarik pada lowongan penerjemah yang diinformasikan di milis
BCD. Terlampir CV sebagai bahan pertimbangan dan saya bersedia dites apabila diperlukan.

Bila tidak memiliki materi asli (softcopy) untuk dilampirkan sebagai contoh terjemahan sewaktu melamar

Dengan hormat,
saya tertarik pada lowongan penerjemah yang diinformasikan di Facebook Penerbit FGH. Terlampir CV dan contoh terjemahan, namun mohon maaf saya
tidak memiliki materi aslinya karena penerbit memberikan dalam bentuk
hardcopy.

Melamar tanpa lowongan, misalnya mendapat contact person dari kolega penerjemah.

Dengan hormat,
saya memperoleh alamat email Mbak [tulis nama] dari rekan sesama penerjemah. Menurut
beliau, Penerbit HIJ sedang mencari penerjemah freelance. Saya berminat
mengajukan lamaran, terutama untuk menerjemahkan novel.

Terlampir CV sebagai bahan pertimbangan. Mudah-mudahan kualifikasi
saya memenuhi syarat.
Terima kasih atas perhatiannya.

Negosiasi tenggat. Tawaran menarik datang, tapi di tangan ada pekerjaan yang belum selesai.

Saya berminat sekali menerjemahkan buku tersebut. Tapi masih ada yang saya kerjakan sampai pertengahan Desember. Apakah buku ini harus cepat terbit atau bisa menunggu?

Bila ternyata harus buru-buru dan kerja sama batal.

Saya mengerti. Semoga lain kali kita dapat bekerja sama.

Pekerjaan masih banyak, bahkan sampai beberapa bulan ke depan. Lalu ada klien yang sering mengirimkan bahan tugas baru tanpa mengabari lebih dulu karena sudah “langganan”.

Ketika menyerahkan hasil terakhir, tulis seperti ini:

Setelah ini, ada yang harus saya selesaikan sampai (kira-kira) Februari 2013. Setelah itu, atau jika ternyata selesai lebih cepat, saya akan langsung menghubungi Mbak/Mas [nama editor]. Terima kasih.

Catatan: tidak menyebut perkiraan waktu rampungnya pun tak mengapa, kalau khawatir mundur lagi dari prediksi

 

Semoga contoh-contoh sederhana ini berfaedah.

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses to “ Contoh Korespondensi ”

  1. gravatar Kahar
    July 11th, 2011

    Makasih infonya mbak Rini,… 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com
      July 11th, 2011

      Sama-sama, Mas Kahar:)

  2. gravatar Istiani Prajoko
    July 11th, 2011

    Wah, jeng Rini ini memang kreatif. Segala hal bisa dijadikan bahan tulisan di blog.

    • gravatar admin rinurbad.com
      July 11th, 2011

      Matur nuwun, Mbak Isti:)

  3. gravatar selviya
    July 12th, 2011

    Keren, Mbak Rini. Setuju dengan Mbak Istiani Prajoko: kreatif. Artikel ini super duper berguna 😀

    • gravatar admin rinurbad.com
      July 12th, 2011

      Terima kasih, Selvy. Tadinya aku bingung dan judul tulisan ini sudah kuubah beberapa kali:)

  4. gravatar gea
    February 20th, 2012

    wah, terima kasih sekali mbak 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com
      February 20th, 2012

      Sama-sama:)