Sukarnya Mengonsistenkan Bahasa Indonesia

August 15, 2011
2 mins

Bahasa adalah sesuatu yang lentur, cair, fleksibel, dan terus berkembang sehingga bersifat dinamis. Tengok saja perubahan-perubahan dalam tempo singkat, yang kerap kali membingungkan juga, di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata ‘memperhatikan’ sempat menjadi ‘memerhatikan’ kemudian di edisi terbaru (KBBI IV) menjadi ‘memperhatikan’ kembali. Muncullah semacam teka-teki, apakah jika keluar KBBI V, kata ini tetap atau menjadi ‘memerhatikan’ lagi? Sementara kata ‘memesona’ tidak berubah menjadi ‘mempesona’. Rumus tidak berlaku. Penerjemah dan editor harus tetap rajin menjenguk kamus.

Ambil contoh kata lain. Ketika tertumbuk blueberry dalam suatu buku, saya hampir membiarkannya begitu saja. Tetapi saya teringat blackberry telah dipopulerkan dengan buah beri hitam. Apakah blueberry menjadi buah beri biru? Tidak, melainkan bluberi, setelah saya cek beberapa buku fiksi terjemahan dan googling. Mengapa blackberry tidak jadi blekberi? Saya belum mencari tahu alasannya. Mungkin karena sudah berlaku demikian lebih dulu (seingat saya ada di buku Enid Blyton terbitan tahun 90-an), sedangkan bluberi berdasarkan kemudahan pelafalan yang populer seperti halnya strawberry menjadi stroberi.

Tidak adanya padanan yang pas menjadikan suatu kalimat terpaksa ‘belang-belang’ saat menderetkan kata sejenis. Misalnya, “Di pekarangannya, tampak pohon dedalu, pir, jambu biji, persik, birch, dan oak.” Kedua tanaman terakhir tidak familier di Indonesia, sependek pengetahuan saya, sehingga tidak diterjemahkan.

Sejujurnya, saya pribadi masih canggung (bila tak hendak disebut keras kepala) masalah peristilahan teknologi dan komputer. Saya lebih suka browsing atau berselancar ketimbang meramban, download tinimbang mengunduh, thread daripada utas, dan mouse daripada tetikus. Kadang-kadang masih menolerir, namun lebih sering tidak. Apalagi jika kata-kata tersebut ada dalam buku fiksi, yang menurut saya, menjadikannya kering bila kelewat konsisten. Pasalnya, acap kali pengulangan perlu dihindarkan kecuali terpaksa.

Maka saya kembali pada argumen dasar. Bahasa bukan ilmu pasti.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    August 15th, 2011

    Dalam menerjemahkan, aku pribadi melihat dulu materinya. Kalau buku chicklit yang agak gaul, mungkin belum dulu make “unggah” atau “peretas” (apalagi tetikus, ga deh… hehe). Tapi di luar itu, klo suatu istilah sudah berterima, mungkin akan kupake.

    • admin rinurbad.com
      on
      August 15th, 2011

      Makasih masukannya, Lul:)

  2. on
    August 15th, 2011

    Oak itu bukannya ek?

    • admin rinurbad.com
      on
      August 15th, 2011

      Baru tahu dari Lulu juga. Makasih koreksinya, ya Nui:)