Postingan ini terkait freelancer penuh, dan tidak bermaksud memprovokasi Anda yang sudah nyaman sebagai orang kantoran.

Orang yang senang gaul, kongkow-kongkow ke mal, kurang cocok jadi freelancer penuh sebab ini dunia kerja yang soliter. Pameo ‘bebas menentukan waktu kerja’ hanya berlaku bagi freelancer yang merangkap orang kantoran atau tidak menjadikannya sebagai profesi utama. Bagaimana cara mengatur waktunya? Saya bukan orang yang tepat untuk ditanyai hal itu, karena sudah mencoba dan menyerah. Dengan kata lain, bagi saya, freelancer tidak bisa disambi. Mungkin bisa, bila pekerjaan hanya satu dan tenggatnya sangat lama. Namun sependek pengetahuan saya, rata-rata freelancer giat, gigih dan ingin bergegas mencapai finish supaya tidak terserang kejenuhan.

Seorang kenalan mengatakan bahwa strateginya adalah tarif tinggi sehingga pekerjaan dapat dibatasi dan tenggat dapat diberlakukan sekehendak hati. Menurut saya, yang ‘berwenang’ menetapkan tarif mahal adalah para senior berjam terbang luar biasa tinggi. Dan mengingat ‘ada harga ada rupa’, klien biasanya memburu dengan setia, bahkan mengantre dengan sabar. Belum berpengalaman tapi berani mematok tarif dan tidak mau berkompromi? Anda pasti tahu akibatnya.

Semangat berdikari dan kreatif menghadapi berbagai situasi, itulah yang harus dimiliki freelancer penuh. Tidak memperoleh bonus atau tunjangan medis semestinya membuat kita bersemangat menjaga kesehatan, bukan mengeluh begini dan begitu. Fasilitas kerap menjebloskan kita pada sikap aji mumpung. Mumpung dapat penggantian obat, batuk sedikit pergi ke dokter. Mumpung pulsa dibayari, suka-suka menggunakan telepon. Bayangkan apabila Anda menjadi pemilik perusahaan yang menyediakan tunjangan kesehatan, lalu ada pegawai yang setiap bulan sakit. Apalagi di zaman penuh tantangan ini, yang menuntut segala sesuatu dirampingkan.

Berdikari tadi bisa juga diartikan semangat berhemat. Upayakan mengotak-atik komputer sendiri, misalnya, bukan sebentar-sebentar ke jasa perbaikan. Minimal disiplin menjaga data dari serangan virus dengan tidak asal colok flashdisk dan HD eksternal, memformat ulang sendiri, dan tidak malas membaca Help/panduan. Tidak menyiksa baterai laptop atau menekan keyboard semena-mena (padahal bila harus diganti, harganya setara dengan beras segantang). Gaptek (yang bertetangga dekat dengan kemalasan) mungkin bukan akhir dunia, tapi p-e-m-b-o-r-o-s-a-n.

Biasakan memilah harta produktif dan harta konsumtif. Bukan berarti tidak boleh bersenang-senang sama sekali, yang penting tidak lupa daratan. Bedakan keinginan dan kebutuhan. Seorang kerabat freelancer mengumpamakan masa istirahat/liburnya bak ular yang berhibernasi, sembari menghimpun energi untuk mencari sesuap berlian kembali.

Tidak bisa tidak, freelancer masa sekarang harus cakap menggunakan internet. Sebisa mungkin, upayakan memiliki akses sendiri di rumah. Jangan andalkan ponsel, terutama bila Anda sering lupa membalas SMS atau meletakkan ponsel sehingga banyak panggilan tak terjawab. Bukan satu-dua kali saya mendengar relasi batal mengorder freelancer yang sukar dihubungi.

Bagi yang lajang, menjadi freelancer adalah kesempatan mencicipi hawa dinamis dan memperbanyak pengalaman. Bagi yang berkeluarga, alangkah sehatnya apabila pasangan mendukung. Mendukung = tidak malu karena pasangannya lebih banyak berdiam di rumah, serta menjadikan setiap hari bak hari Senin atau hari Minggu. Bukan rahasia lagi, di tengah minggu, bisa saja kita melakukan hal lain/rehat, tetapi waktu yang ‘hilang’ harus segera ditebus.

Jika sudah merasa berada di ‘jalan yang benar’. mantap memilih, dan sadar akan konsekuensi serta komitmen, insya Allah freelancer menjadi hal yang sungguh nikmat lagi mengasyikkan.

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Siapkah Anda Menjadi Freelancer? ”

  1. gravatar listyart
    October 29th, 2010

    Keren! Sampai memikirkan dampak holistik dalam dunia kerja. Ditunggu sharing-sharing dunia freelance lainnya ya, mba. 🙂

    • gravatar Rini Nurul Badariah
      October 31st, 2010

      Wadaw, holistik… jadi GR.
      Makasih sudah baca ya, Tya:)

  2. gravatar novi khansa
    November 2nd, 2010

    “Bagi yang lajang, menjadi freelancer adalah kesempatan mencicipi hawa dinamis dan memperbanyak pengalaman.”

    betul betul betul 😀

  3. gravatar miyosi
    December 30th, 2010

    saya juga freelancer mbk meski masih newbie, awalnya ngajar dan nulis, tp sudah sbulan ini saya resign di ngajar dan nulis aja, hasilnya lumayan hehe, lebih besar drpd ngajar ternyata kalau dijalani dg serius

    mohon bimbingannya mbk 😀