Sederet Kesan Tentang Halo, Aku dalam Novel

October 31, 2010
4 mins

Penulis: Nuril Basri
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 302 halaman
Cetakan: I, 2009
Beli di: BBC, Palasari
Harga: sekitar 30 ribu (sebelum diskon 25%)

‘Makanan di sini rasanya seperti kardus. Tidak ada rasanya. Orang-orangnya aneh. Mereka tersenyum meski tidak kenal…….Aku ke sini hanya agar orang tuaku senang. Pulang dari sini, utangku impas. Aku tidak mau lagi mengikuti kemauan mereka ‘(hal. 3).

Pram tidak menikmati keberadaannya di Amerika. Ia menjalankan keterpaksaan, seperti yang diutarakannya “..sekadar memenuhi kewajiban sebagai anak orang kaya sialan’ (hal.4). Maka dipilihnya kota yang paling tidak populer, bahkan sepi, agar ia dapat berkonsentrasi menggoreskan cerita setiap hari. Menjadi penulis adalah impian terpenting Pram.

Surat-surat elektronik dari tanah air, antara lain kekasihnya, dibalasnya dengan sinis. Ketenangan yang diharapkan dapat direguk ternyata nyaris semu, sebab Pram dikelilingi teman-teman sesama pendatang dari Indonesia yang menaruh kepedulian kepadanya. Bagi pemuda tersebut, perhatian mereka malah mengganggu privasinya. Ia menilai bodoh keputusan pihak kampus untuk menempatkan para mahasiswa dari negara asal yang sama demi ketentraman suasana belajar.

Dengan laptopnya, Pram membangun dunia kecil sendirian. Ia menulis cerita dan menciptakan karakter utama bernama Halo, seorang gadis. Seterusnya, pembaca digiring menapaki lembar demi lembar perjalanan Halo yang ditingkahi kegelisahan pengarangnya. Kadang-kadang ia merasa sangat tidak percaya diri, lain kali menghadapi dilema untuk melanjutkan plot, hingga suatu ketika para karakter dalam fiksinya itu menjelma dan mengutarakan protes-protes. Pram tidak lagi dapat membedakan kenyataan dan dunia khayal yang direkanya sendiri.

Sedari permulaan, karakter Pram mewujud sebagai sosok yang teramat tidak biasa. Ia berbicara seenaknya dalam ruang kuliah, terlebih suasana belajar-mengajar memperkenankan siapa saja melontarkan pendapat sebebas mungkin. Kendati cenderung menutup diri, Pram tidak dapat memungkiri bahwa ia merasa cocok dengan seorang temannya yang bernama Mike. Lelaki yang terbilang tenang, tidak menghakiminya begini dan begitu, juga tidak banyak mengajukan pertanyaan sebagaimana rata-rata orang yang ia kenal. Pram memang terbiasa berlaku sarkastik, tanpa menghiraukan pendapat orang lain mengenai dirinya. Karena tidak ingin kegiatan menulisnya diintip, jika teman-temannya bertanya apa yang membuatnya begitu sibuk, Pram dengan enteng menjawab bahwa ia tengah melihat-lihat situs porno. Ia pun tutup telinga dari komentar miring seseorang bahwa dirinya menyukai sesama jenis karena hanya akrab dengan Mike.

Suatu kelumrahan tatkala seorang penulis menyatu jiwa dan raga dengan karyanya, yang kerap kali bagaikan bayi kesayangan dan harus dilindungi sebisa mungkin. Demikian pula Pram, dilanda keresahan ketika mulai tidak menyukai salah satu karakter dalam fiksinya, namun merasa dikejar-kejar oleh sosok tidak nyata sementara yang lain tidak menyadari keberadaan mereka.

Halo, Aku dalam Novel sangat lain dengan fiksi berlatar kehidupan kampus lainnya karena disuguhkan dengan bahasa yang jauh dari ketidakbakuan dan kosakata gaul yang membuat dahi berlipat dua belas. Nuril Basri sukses meniupkan aroma dark yang pekat dalam buah penanya, menyeret pembaca untuk turut lintang-pukang dalam pusaran dilema Pram, menyeruaknya pemikiran-pemikiran tentang kematian dan mimpi buruk yang sarat bubuhan psikologis. Cerita yang membuat kita merenung tentang pribadi introvert yang mungkin ada dalam sisi-sisi diri sendiri, atau lebih memahami mereka yang menikmati menjadi seperti itu. Resapi debaran jantung dan suasana depresi Pram ketika membalik halaman, sebab novel ini sulit diletakkan sebelum tuntas.
Nuril Basri memang penulis yang relatif baru dan usianya masih muda. Namun karyanya spesial dan lebih dari patut untuk ditelisik secara mendalam.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response for this article