Sang Fotografer (Didier Lefevre & Emmanuel Guibert)

February 27, 2011
5 mins

sumber: Goodreads

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 280 halaman

Cetakan: I, Februari 2011

ISBN: 9789792267020

Harga: Rp 175.000,00


Menurut Durant Imboden dalam artikelnya, How to Write About Travel, genre buku traveling antara lain terbagi sebagai berikut:

1. Buku panduan. Ini bisa diklasifikasikan lagi sesuai target pembaca.

2. Travel narrative, biasanya dikemas ala penulisan fiksi. Seperti kebanyakan novel, mengandung pembuka, tengah, dan penutup. Juga disertai konflik.

Novel grafis ini patut didapuk sebagai yang kedua dan dikombinasikan dengan memoar, yang sesuai definisi di sana, lebih singkat daripada otobiografi. Tentu saja, sang narator, jurnalis foto Didier Lefèvre bukan hendak melancong ke Afghanistan. Ia bergabung dengan rombongan Médecins Sans Frontières (Doctors Without Borders) dalam misi kemanusiaan. Pada tahun 1986, Afghanistan tengah berperang dengan Rusia dan Didier menjadi salah satu saksi yang netral atas wajah mengenaskan para korban pertempuran seperti anak-anak tidak bersalah.

Kata orang, foto bisa berbicara lebih banyak daripada teks. Tanpa mengecilkan peran penulis, bidikan-bidikan Didier mengembuskan napas Afghanistan secara menggetarkan sehingga dalam novel grafis ini, terasa benar akan padunya teks, ilustrasi, dan foto yang bergantian hadir menggelontorkan cerita. Jenakanya proses adaptasi Didier, mulai dari pemberian nama Ahmadjan dari teman-teman satu tim, pembelajaran mendadak bahasa Persia, mirisnya hati melihat remaja menenteng senjata, dan aneka karakter warga Aghanistan yang unik. Bentuk chadri pun lebih jelas saat Didier dan kawan-kawan menyamar naik truk ke negeri yang tengah berkonflik itu. (hal. 36)

Sisi humanis dan budaya menjadikan Sang Fotografer sangat elok untuk dinikmati. Kendati budaya Afghanistan tidak biasa menempatkan wanita di posisi pemimpin, orang-orang yang diajak bicara oleh Juliette tidak mempersulit urusannya. Juliette memaparkan siasat tersendiri:

Selain itu, aku tahu tradisi mereka. Kau tidak bakal pernah melihatku mengulurkan tangan pada mereka, menatap mereka terang-terangan atau melakukan apa pun yang membuat mereka merasa terhina (hal. 42).

Didier menggunakan mata fotografernya untuk menilai banyak sosok, tempat dan hal lain yang ia dapati. Ia tidak ragu menyebut Najmudin tampan dan memegang kode etik untuk tidak memotret orang yang sedang sembahyang. Saya larut dalam kekaguman Didier tatkala mengetahui ketegaran penduduk Afghanistan yang menjalani pengobatan. Bila ada pasien meninggal, anggota keluarganya tetap berterima kasih kepada para dokter.

Tiada pertempuran tanpa kemurungan. Didier menguak lebih banyak lagi di bagian kedua, di antaranya:

Sebagian besar pria Afghan, termasuk yang kelihatannya paling brutal, sekalipun, bersikap seperti seorang ibu kepada anak-anak kecil. Mereka menunjukkan kasih sayang mereka dalam cara yang sangat lembut dan nyata. Aku sering melihat mereka memeriksa apakah anak-anak mereka tidak kedinginan, membetulkan topi anak-anak itu, dan sebagainya. (hal. 94)

Seorang pasien yang harus dioperasi karena sebelah matanya tertembak malah memikirkan ayahnya yang sudah tua. Menurutnya, kecelakaan yang ia alami sudah kehendak Allah. Dampak buruknya tidak lebih dari kesulitan mencari istri, namun lelaki itu tidak mengeluh sama sekali.  Hati saya ikut tertusuk membaca perihal balita yang tidak pernah menangis sampai akhir hayatnya, juga bocah yang tidak bisa bangun dan ternyata ada proyektil sebesar butiran beras menancap di punggung.

Benturan budaya tak pelak diangkat pula. Juliette membuka wawasan Didier, yang seperti kebanyakan orang di dunia, menilai para wanita Afghanistan terkekang dan dibungkam. Ia mengoreksi itu karena ternyata seorang wanita kenalannya memilih sendiri istri kedua untuk menemaninya di rumah lantaran sang suami kerap bepergian jauh.

Porsi konflik dramatis yang proporsional kian terasa tatkala dalam bagian 3, Didier memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan untuk kembali ke Pakistan dan segera pulang ke Prancis karena merasa tugasnya sudah selesai. Keluar dari negeri yang tengah ingar-bingar dalam pergulatan maut dan sesungguhnya masih asing bagi sang fotografer jelas tidak mudah. Cekaman cerita menunjukkan kekuatan Didier, Emmanuel Guibert, dan Frederic Lemercier hingga Sang Fotografer tidak kehilangan kesan filmisnya sampai penghujung buku.

Yang lebih impresif lagi, kendati terjerembab dalam pelbagai kesukaran dan pertentangan, tim MSF tidak jera. Didier pun berkeinginan menginjakkan kaki kembali di Afghanistan. Sungguh sebuah karya yang teramat jujur.

Rating: 5/5

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    February 27th, 2011

    wow, 5 bintang! aku juga naksir nih sama buku ini. makasih mb rin 😉

    • Rini Nurul
      on
      February 27th, 2011

      Sama-sama, No. Aku pun sangat bersyukur bisa membaca buku ini:)

  2. on
    February 27th, 2011

    pasti bagus deh.. aku jadi pengen baca buku ini juga..

    • Rini Nurul
      on
      February 27th, 2011

      Bagus banget, Tya, tapi sebaiknya dibaca dalam keadaan jernih hati dan tidak PMS:D