Saatnya Menghela Napas

February 15, 2011
3 mins

Sinyal pengelolaan waktu yang mulai kacau:

1. Perpanjangan dari tenggat semula. Sejauh ini, para klien selalu mengerti, namun saya sendiri yang malu hati. Tambahan seminggu sampai dua minggu terasa wajar, namun sebulan dan tak hanya sekali? Tentu preseden gawat, mengingat di belakangnya singa-singa mati lain masih antre:( Saya perlu introspeksi, barangkali terlalu memandang remeh sebuah naskah hanya karena tidak tebal (baca: 200-300-an halaman).

2. Badan protes. Batuk, pilek, pening, sudah biasa. Pegal-pegal juga bisa diistirahatkan atau digerakkan. Tapi bila lambung sudah memekik dan sulit tidur? Mengerikan.

3. Komplain suami. Ini peringatan paling ‘keras’, mengingat selama ini Mas Agus tak pernah melarang-larang. Tentu saja, tegurannya sangat beralasan. Mana mungkin bekerja maksimal apabila kondisi badan berkeriut dan otak otomatis menjerit-jerit? Bila ditinjau kembali, nyaris tak ada jeda antara proyek satu dengan lainnya.

4. Saya mulai muak melihat monitor (komputer) dan tidak sanggup membaca buku. Nonton film yang ringan pun harus semi begadang.

5. Otak korslet. Seorang sahabat tidak bisa menahan tawa karena saya kesulitan menyampaikan sesuatu hingga mengatakan, “Itu lho…ininya…” dan kepikunan bertambah kronis.

Baiklah.

Dengan berat dan sedih hati, saya melepaskan dua pekerjaan dari jadwal. Yang satu merupakan proyek kerja sama perdana (di bidang terjemahan) dengan penerbit tersebut. Akan tetapi, keduanya merupakan sekuel dan sebisa mungkin terbit tepat waktu alias tidak berjauhan dengan buku sebelumnya. Semoga kedua penerbit dan editornya yang baik hati ini dapat menemukan penerjemah baru yang lebih cocok. Keputusan ini semakin bulat ketika membaca milis sebuah penerbit ternama. Salah satu membernya menanyakan lanjutan sebuah buku, yang diperkirakan terbit tahun lalu namun sampai kini belum selesai diterjemahkan. Alangkah tidak enak hatinya saya jika itu sampai terjadi.

Hati plong dan tidur menjadi pulas karena beban pikiran berkurang. Mengecewakan penerbit dengan molor tak ketulungan, apalagi bila hasilnya kurang memuaskan, menurut saya merupakan bunuh diri karier. Insya Allah, rezeki tak akan ke mana.

Sisi baiknya tentu banyak.

1. Saya dapat lebih berkonsentrasi pada pekerjaan yang ada di meja dan berusaha memastikan bahwa tidak ada bagian-bagian terlewat. Ini kesalahan yang beberapa kali terjadi dua tahun silam.

2. Saya menyadari bahwa kini buku-buku yang dipercayakan meningkat kesulitannya sehingga porsi riset, misalnya, harus lebih besar.

3. Saya bisa menyempatkan diri membaca buku, utamanya hadiah-hadiah dari penerbit alias tugas resensi.

4. Waktu luang dengan suami lebih banyak, walaupun mungkin tidak terlalu signifikan perbedaannya. Saya tidak tega jika Mas Agus lelah dan tidak ada yang mendengarkan ceritanya, membantu pekerjaannya, sedangkan dia sendiri kerap ikut repot oleh pekerjaan saya.

Sementara ini, ‘kandang singa’ berisi satu terjemahan prosa liris, satu kumcer sastra, satu buku anak Prancis, dan dua editan. Sepertinya sudah cukup menyita waktu sampai beberapa bulan ke depan.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    February 16th, 2011

    sama seperti juga aku mbak. hihihi, menerjemahkan empat buku dalam 2 bulan berturut-turut. dan yang terakhir akhirnya selesai juga, molor tiga hari dari tenggat yang dijanjikan. tak sanggup lagi lihat buku, mual lihat komputer.. hihihi… tetap semangat dan tetap sehat selalu mbak rin. 🙂 #pelukbesar#

    • Rini Nurul
      on
      February 16th, 2011

      Benar, Nur. Kapan kita ngisi blog catatan penerjemahan masing-masing kalau nggak ada breaknya:D
      Semoga Nur juga sehat selalu, ya *peluklebihbesar* Nuhun:)

  2. on
    February 16th, 2011

    wah, pantas tak online beberapa hari ini… yang penting jaga kesehatan ya, rin. get well soon…

    • Rini Nurul
      on
      February 17th, 2011

      Aamiin…makasih, Lul. Semoga Lulu juga sehat-sehat selalu:)