Saat yang Tepat Untuk Mati

December 14, 2010
24 secs

sumber: 123rf.com


Namaku Arga. Usiaku 25 tahun. Aku membunuh untuk kesenangan. Tidak penting kesenangan itu bagi siapa. Orang yang menginginkan penyewa rumahnya angkat kaki, kekasih yang merasa terintimidasi oleh ambisi pasangan, atau kepuasanku pribadi melihat seseorang meregang nyawa dan tak berdaya.

Menurutku, darah itu manis. Kadang-kadang aku menjilat percikan yang masih menempel di bilah pisau. Satu-dua kali kubawa pulang beberapa helai rambut untuk tanda mata.

Hari ini, hujan disertai kilat sambung-menyambung. Waktu yang cocok untuk kematian seseorang. Dan dia ada di depanku. Di mataku, ia terlalu cantik untuk dibiarkan menghirup udara dunia. Melihatnya bernapas saja sudah membuatku gelisah.

Ia beranjak dengan gemulai. “Sudah kusiapkan camilan. Ganjal perut dulu, tunggu hujan reda baru pulang.”

Penekanannya pada kata terakhir sungguh ganjil, mengingat dialah yang akan kuantar ‘pulang’.

Lampu mendadak mati. Tepat saat setangkup roti hendak kusuapkan, terangnya kilat menunjukkan sesuatu di dalamnya. Sepotong ibu jari, entah milik siapa.

Belum habis rasa heranku, si cantik telah kembali. Dengan senyum mengembang, diarahkannya pistol ke pelipisku.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
Tujuh Bidadari