Penulis: John Grisham

Penerjemah: Widya Kirana & Diniarty Pandia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 480 halaman

Cetakan: ke-4, 2006

ISBN:  9796059363

Orang dengan setelan jas mahal mabuk di bar dan kencing di lorong, bisa dimaafkan. Tapi tunawisma yang kencing di lorong yang sama akan ditangkap dengan tuduhan kencing di tempat umum. [hal. 223]

Terima kasih kepada film-filmnya, akhirnya saya tertarik membaca buku Grisham satu demi satu. Dan ini yang pertama. Pada dasarnya, saya menaruh minat pada kisah-kisah berbau hukum.

Sungguh tepat waktunya membaca novel ini sekarang, karena saya tengah mengalami dan merancang satu lagi perubahan dalam jalan hidup. Sesuatu yang sangat alami, tentu saja. Pada karakter utamanya, Michael Brock, perubahan itu bisa dikatakan drastis. Banting stir karier menjadi pengacara jalanan, berpisah dengan istrinya Claire, dan pindah tempat tinggal. Semua diletupkan oleh kesadaran setelah nyaris tewas dan menyaksikan seorang gelandangan yang menyandera dirinya serta beberapa rekan sekantor meregang nyawa.

Michael bukan sekadar shock. Apa yang dijalaninya sangat masuk akal karena ia sudah cukup lama tersiksa. Uang dan fasilitas tidak membuatnya bahagia, bahkan menjauhkannya dengan sang istri sejak tahun pertama mereka menikah. Ambisi menjadi partner biro hukum ternyata tidak begitu penting lagi, meredup, meski hanya tinggal tiga tahun. Michael terenyak lantaran dirinya menjadi mesin uang perahan perusahaan. Pada titik ini, saya teringat karakter David Silver, sang pengacara di novel Tell Me Your Dreams-nya Sheldon. Dari novel itu, saya belajar bahwa para pengacara terbiasa dengan sistem kerja ‘wortel di ujung tanduk’. Demi posisi dan kekayaan, mereka rela banting tulang tak kenal waktu.

Pertanyaan si penyandera memukulnya, “Berapa banyak yang kausumbangkan langsung kepada orang miskin?” Mata Michael terbuka melihat tunawisma dan kaum papa bergelimpangan di kota D.C. Dulu ia tak peduli, namun dalam kekisruhan hatinya, ia menaruh simpati pada sebuah keluarga muda: ibu dan empat anak, salah satunya masih bayi. Saya trenyuh sekali ketika Michael memangku si bayi dan membungkus tubuhnya dengan jaket. Lalu menemukan mereka tak bernyawa lagi. Semua kegelisahan meledak jadi bom waktu. Dan perceraiannya menjadi logis, sebab Claire keberatan akan pengurangan pendapatan sebagai akibat keputusan yang diambil Michael tanpa berunding dengannya itu.

Cerita berjalan menegangkan, sekaligus membuat saya sulit berpaling sekejap pun. Michael sakit lahir batin, dianggap musuh oleh biro dan kawan-kawan lamanya, serta terpaksa melakukan tindakan nekad untuk menyelidiki suatu ketidakadilan. Melanggar kode etik profesi, suatu potret bahwa praktik hukum sukar diterapkan secara ‘bersih’ seratus persen. Seperti kata Marechai Green di suatu bab, “Anda pakai koran, kami juga pakai koran.”
Luka hati Michael digambarkan realistis, ia tetap merasa kehilangan dan merindukan Claire, meski tidak jatuh cengeng atau membabi-buta mencari pelarian. Pula saat ia waswas dirampok, terlebih dirinya merupakan satu-satunya orang kulit putih di wilayah tempat kerja yang baru.

Saya pun bisa tersenyum ketika ia mengendalikan diri dalam debat soal masa depan dengan kakaknya, Warner, yang juga praktisi hukum dan bercerai. “Kalau kau lapar, telepon aku ya,” canda Warner.
Dari sini, saya belajar tentang cara berkomunikasi dengan saudara yang berbeda pandangan.

Endingnya tidak terlalu dramatis, tetapi tetap masuk akal. Saya semakin tertarik untuk membaca karya-karya Grisham lainnya:)
Sangat tidak mengherankan, novel ini telah memasuki cetakan keempat. I love it.

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ The Street Lawyer (Pengacara Jalanan) ”

  1. gravatar Rini Nurul Badariah
    September 2nd, 2010

    Thanks, Bro:)