Rose Madder, Melawan Suami ‘Ringan Tangan’

November 09, 2010
4 mins

Judul terjemahan: Wanita dalam Lukisan
Penulis: Stephen King
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 768 halaman
Cetakan: III, Juli 2007
Beli di: Rumah Pernik (second)
Harga: 35 ribu

Cover Indonesianya mirip dengan ini. Sumber: Goodreads

Bayangkan jika Anda terpikat pada sebuah lukisan begitu saja tanpa
alasan. Hanya semata terpesona dan tak dapat menunda untuk
memilikinya. Tak ada nama pelukis, tak ada tandatangan, namun apa yang
tersaji di situ terlalu menarik untuk dilewatkan.

Norman Daniels dipandang sebagai pahlawan karena sukses menggulung
jaringan pengedar narkoba. Namun di rumah, ia adalah monster. Selama
empat belas tahun Norman menyakiti istrinya, Rose, secara fisik.
Sungguh bertolakbelakang dengan moto pengabdian yang tertera di cincin
Akademi Polisi di jarinya.

Rose memutuskan untuk pergi setelah kehilangan bayinya akibat tangan
besi Norman. Ia membawa kartu ATM sang suami dan memberikan alasan
bagi Norman untuk membunuhnya.

Alur novel ini agak lambat. Saya dibuat mual dan jijik oleh kesadisan
Norman terhadap Rose yang benar-benar tidak bersalah. Ia juga
melakukan kekerasan verbal melalui ucapan-ucapan kotor lagi
merendahkan. Tidak mengherankan jika Rose terus dirundung rasa takut
bahkan terhadap polisi. Norman selalu mengancamnya dengan perkataan
bahwa semua polisi bersaudara. Ia tak akan ditangkap, tapi didukung
dan dilindungi. Oleh sebab itulah Norman dan seorang kawannya lolos
dari tuduhan pemerkosaan seorang wanita di hotel, yang juga dianiaya
oleh mereka berdua sampai kemudian tewas.

Rose diselamatkan oleh Peter Slowik, yang menunjukkan penampungan
bernama Daughters and Sisters. Akan tetapi kehidupan Rose benar-benar
berubah tatkala mendapati sebuah lukisan yang dibubuhi ‘Rose Madder’
dengan arang di baliknya di toko keluarga Steiner. Lukisan itu
ditukarnya dengan cincin pertunangan dari Norman, yang ternyata nyaris
tak berharga.

Novel ini merangkum kombinasi kekerasan berat dan horor yang
mendegupkan jantung. Sepanjang cerita, Stephen King menumpahkan darah
untuk menunjukkan alangkah bengisnya seorang Norman Daniels. laki-laki
‘sakit’ yang kemungkinan dipengaruhi tindakan ayahnya dan selalu
mendengarkan bisikan untuk berbuat kejam terhadap siapa pun, termasuk
anak kecil.

Deskripsi lukisan yang berubah-ubah setiap kali dipandang sungguh
menakjubkan. Pula tatkala dunia di balik lukisan itu ternyata hidup
dengan segala keanehan dan keganjilannya. Sebuah konsekuensi logis
ditentukan oleh Stephen King: untuk mendapat bantuan dari Rose Madder
saat menghadapi ancaman Norman yang gelap mata, Rose harus melakukan
sesuatu dan memiliki sesuatu sebagai penyambung komunikasi dirinya
dengan dunia dalam lukisan.

Saya harus mengendalikan imajinasi agar tidak mengalami
mimpi buruk, terlebih ketika mendapat perumpamaan bahwa Rose Madder
ibarat seekor rubah betina yang berumur panjang. Profesi Rose Daniels
sendiri,
pembaca buku audio, merupakan sesuatu yang mengundang minat untuk
diketahui lebih lanjut.

Melalui karakter Anna Stevenson, Stephen King mengemukakan opini bahwa tidaklah benar seorang pembela kaum lemah (dalam hal ini para wanita yang
mengalami kekerasan dalam rumahtangga) pasti memiliki latar belakang
sama kelamnya.

Siapa yang jahat, sudah diketahui sedari awal. Proses baku hantam
Rose, yang telah menjadi pribadi baru, kala berhadapan lagi dengan
suaminya merupakan pertarungan mendebarkan. Tetapi bukan Stephen King
bila tidak menutup kisah ini dengan aroma horor yang tajam.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.