Refreshing Membaca

April 18, 2011
2 mins

Beberapa minggu yang lalu, Mas Agus bisa menuntaskan buku yang relatif tebal-tebal dalam tempo seminggu. Seri Young Samurai hadiah lomba resensi Percy Jackson pun ia tamatkan lebih dulu. Tetapi belakangan, novel yang ada di mejanya belum sampai seperempat padahal ia tidak terlalu sibuk.

Ketika saya tanya, ia bilang, “Mungkin karena habis nge-proof, jadi otaknya ‘cerewet’.”

Saya sependapat. Kejenuhan kerap menjadi belenggu pula. Namun karena membaca merupakan aktivitas menyenangkan, juga begitu banyak genre yang bervariasi, saya pikir selalu ada alasan untuk membaca secara santai. Salah satu triknya adalah menghindari buku ‘berat’ seperti thriller dan horor menjelang tidur di malam hari.

Selain melepas lelah, membaca komik dan buku anak merupakan siasat menambah jumlah read di rak Goodreads dalam tempo singkat, mengingat rata-rata komik dan buku anak tidak terlampau tebal. Tetapi ada kalanya mata lelah sekali dan melihat aneka gambar warna-warni membuat saya pusing. Itulah saatnya beralih ke…

…buku non terjemahan. Harus diakui, usai menyunting atau menerjemahkan, kepala terasa pepat. Daripada terbayang-bayang alinea yang mungkin terlewat dimuluskan atau kalimat yang masih menjadi tanda tanya, saya kerap membawa buku asli Indonesia ke tempat tidur sambil mendengarkan musik ringan. Drama, romansa, buku remaja, bacaan yang mengasyikkan. Tak jarang buku-buku ini melahirkan inspirasi yang perlu dicatat.

Kali lain, saya memilih buku non fiksi. Ada rekan penerjemah dan editor yang berpendapat bahwa mengerjakan buku non fiksi lebih ‘lempeng’ karena tidak perlu bereksplorasi diksi dan rasa bahasa terlalu dalam dibandingkan fiksi. Mungkin karena itulah, kebanyakan buku jenis ini bisa dirampungkan segera.

Tentu, semua ini berlaku bila kita tidak kelewat pilih-pilih alias ‘alergi’ pada genre tertentu.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.