Red Dragon (2002)

June 06, 2012
48 secs

 

Think to yourself that every day is your last. The hour to which you do not look forward will come as a welcome surprise

Our scars have the power to remind us that the past was real.

Seorang rekan penerjemah bilang, film ini dan Silence of the Lambs belum ada apa-apanya dibanding bukunya. Saya semula gembira saja melihat penampilan aktor-aktor keren di sini, semisal Ralph Fiennes, Edward Norton, Philip Seymour-Hoffman, dan Mary Louise Parker.  Jika semua bintang itu hanya untuk membuat silau, sayang sekali, bukan?

Dan jadilah, saya menonton ini serius. Tiap ada distraksi, saya pause. Tidak dilewatkan karena sayang. Memang ada bagian-bagian yang akan lebih dimengerti jika saya baca bukunya, tapi saya bisa menikmati. Betapa sulitnya menumbuhkan kepercayaan pada orang lain, dan betapa rentannya jiwa seorang anak yang disiksa serta dikata-katai sehingga bisa menjadi psikopat semasa dewasa. Ironisnya, pelaku penganiayaan lahir batin itu adalah anggota keluarga sendiri.

Faktor menariknya cukup banyak, antara lain:

[spoiler] Penjahatnya tidak cepat mati (konyol), kode-kode yang menegangkan untuk dipecahkan, kemudian pemikiran baru bahwa bersekongkol dengan jurnalis untuk memancing si penjahat ternyata bisa membahayakan nyawa jurnalis itu sendiri [/spoiler].

Anthony Hopkins tidak terlalu banyak muncul menurut saya, meski peran karakter Hannibal jelas cukup esensial. Red Dragon lebih mengundang penasaran dan lebih mencekam daripada Silence of the Lambs.

Poster dari flixster

Skor: 4/5

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.