Politweet (Salman Aristo)

February 12, 2011
2 mins

sumber: Goodreads

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: vi + 130 halaman

Cetakan: I, Desember 2010

ISBN: 9786028811170

Mengutip epilog Hikmat Darmawan, “Jika “sastra” tak lain adalah sebuah bentuk khusus berbahasa, maka dunia bahasa Twitter pastilah menghasilkan sastranya sendiri. Dengan batasan maksimal 140 karakter, Anda bisa bayangkan bahwa jika ada yang mau menulis cerita dalam Twitter, pakem dan langgamnya pastilah khas.” (hal. 123)

Saya sudah hampir ‘menimpali’, karena saya tergolong pemakai Twitlonger yang, kala mengakses akun jejaring sosial ini dengan piranti ponsel pun, enggan menyingkat demi penghindaran kesalahpahaman. Tetapi Hikmat Darmawan sudah menyusulkan:
“Bahkan jika sebetulnya Anda bisa mengetik lebih dari 140 karakter (dengan aplikasi Twitlonger) atau membuat twit bersambung, sifat khas sastra kilat atau sastra mikro dari Twitter tak bisa dihilangkan begitu saja.”

Politik adalah satu segmen yang selalu laik diangkat dalam pembicaraan di ‘tempat umum’ yang bernama dunia maya, atau kini acap disebut mayantara. Jika dahulu menjamur tren blook atau blog-book, yang kemudian redup seiring aktivitas posting blog sendiri yang dikalahkan oleh update status harian bahkan menitan, Twitter sebagai wahana kreativitas relatif baru dapat dijenguk sebagai penyuburan ide dan tidak semata penampung curahan hati.

Di sinilah berpadunya komik (strip), Twitter, dan fiksimini yang ditekuni oleh Salman Aristo. Sering kali yang singkat-singkat itu lebih jelas dibandingkan yang beralinea-alinea. Sebagian teks, sungguhpun dibantu gambar, membuat saya berpikir lebih lama. Namun cukup terang bahwa politik yang menggelitik memotret hal-hal kurang cantik, merekam banyak sisi dan luas pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat lapis terbawah sekalipun. Berikut beberapa contohnya:
“Nduk, Nduk, kalo sudah miskin, jadi pembantu, mbok, ya, jangan diperkosa. Ndak ada yang mau bantu.” (hal. 92)
“Ani cuma ingin masak buat anaknya. Tapi sekarang, dapur bikin ngeri. Bisa membunuh sadis sekali.” (hal. 112)

Singkat kata, tidaklah benar jejaring sosial sama sekali tak berguna. Bisa berdiskusi, menyemai gagasan, dan mendokumentasikannya dalam buku seperti Politweet ini.

Rating: 3/5

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.