Pernak-pernik Penerjemahan The Girl Who Kicked The Hornet’s Nest

January 31, 2011
4 mins

Sengaja hanya sedikit yang saya edit sebab keasyikan mengerjakan novel ini lebih terasa, sesuai penuturan Nur Aini. Terima kasih, Aini, karena bersedia menjawab pertanyaan saya di sela kesibukan membunuh singa:)

Menurut Aini pribadi, apa kemenarikan seri Blomkvist & Salander ini?
1. Tokoh Salander yang unik banget. Rasanya jarang-jarang ketemu tokoh perempuan yang sesadis Salander. Sekadar informasi: Aku penyuka Xena the Warrior Princess 😛

Komentar: Sama dong:)

2. Wawasan si penulisnya, yang akhirnya bikin aku belajar juga 😛 Di buku 1 ada banyak soal masalah finansial, intrik keuangan, perusahaan palsu. Di buku 2 tau-tau jadi ke matematika. Di buku 3 pindah ke wanita Amazon, republik hacker, politik dan konspirasi. Intinya: Ini seri yang bikin aku belajar banget 😀 (emang sih ngedit dan nerjemahinnya sampai jungkir balik, tapi puaaaas)

Apakah Aini menyensor sendiri waktu menerjemahkan buku ke-3, atau dilakukan oleh editor?
Berhubung keputusan sensor itu ada di tangan editor, jadi aku cuma nandain yang kira-kira vulgar atau mengarah ke vulgar. Untungnya di buku-3 nggak terlalu banyak juga (rasanya).

Lebih suka yang mana dalam penggarapan keseluruhan seri: mengedit atau menerjemahkan?
Wah…apa, ya? Dari segi waktu sih lebih enak ngedit. Karena yang dikerjain paling ngubah kalimat supaya lebih dimengerti, ngecekin padanan kata kalau emang nggak sesuai, ngecekin logika cerita.
Nerjemahin juga asyik. Emang lebih berat sih, karena tetep aja sambil ngubek-ngubek internet (untung internetnya lancar waktu itu)
Antara lain yang dicek:
1. Peristilahan dan padanan kata. Contoh: waktu di buku 1 aku harus ngebuka Alkitab buat ngecek terjemahan. Waktu di buku 3 aku ribet nyari info tentang Sapo, dan padananan di dunia pemerintahan. Dan di buku 3 juga aku baru tau kalau sistem peradilan di Swedia beda dengan di Indonesia, jadi ketemu kata yang nggak ada padanannya (akhirnya aku ganti dengan padanan lain dan ditandai supaya Mbak Esti bisa diskusi dengan para editor di Mizan :D).
2. Penggunaan bahasa yang sesuai. Contohnya waktu ngedit buku 2. Semua yang ada x = y blablabla itu asli kutulis ulang supaya lebih kerasa bahasa matematikanya. Bahasa matematika kan beda dengan bahasa sastra.
3. Logikanya…termasuk logika cerita. Contoh: Waktu di buku-3 aku sampai ribet ngebukain peta Swedia demi bisa membayangkan arah jalannya (supaya nggak salah belok). Waktu di buku 2 aku sampai nyari-nyari apa itu Teorema Fermat :))

Bagaimana perasaan Aini ketika ‘bertemu’ dengan adegan-adegan kekerasan yang cukup rinci dalam buku aslinya?
Waah! Aku pribadi justru suka. Suka plus kesel pengen mukulin si tokoh jahat itu dan suka karena Salander juga membalas dengan sadis 😀 (akhirnya bacanya sambil nyumpahin “puas! puass!!”)
Tapi, sebagai editor yang baik dan bertanggung jawab terhadap moral bangsa (halah), akhirnya bagian-bagian itu ya disensor…entah dibabat, entah diganti kata-katanya 😀 plus protes ke CEO dan berujung pada pemasangan logo Dewasa. Hihihi

Kalau kekerasan yang berbau penganiayaan terhadap Salander (seperti di buku kedua), memang bikin jengkel.
Total berapa lama Aini menerjemahkan buku ke-3?
Dari 15 Juni sampai 30 Juli 2010. Mulai dari bab 11 😀 (masih ada catetannya)

Siapa tokoh favorit Aini di buku ke-3 ini? Mengapa?
Mm…siapa, ya? Tetep Salander kayaknya. Karena dia di luar terlihat kasar tapi sebenernya baik hati, plus kikuk kalau soal masalah bersosialisasi dengan orang.

Tidak mengherankan jika novel tersebut begitu melarutkan perasaan saya, karena penerjemahnya amat menjiwai:)

Saya belajar dari Aini dan buku-buku tersebut. Juga Nurul Agustina selaku penerjemah buku pertama, kedua, dan sebagian buku ketiga, tentunya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.