Perjalanan Ajaib yang Mengharu-biru

January 09, 2011
4 mins

Judul: Perjalanan Ajaib dan Kisah-Kisah Nyata Menyentuh Lainnya (Chicken Soup for the Soul Graphic Novel, #3)

Penulis: Kim Dong Hwa, Mark Victor Hansen, Jack Canfield

Gambar: Kim Dong Hwa

Penerjemah: Prasasti Budiyanto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 145 halaman

Cetakan: ke-3, Mei 2008

ISBN: 9792236686

Beli di: HM Books

Bisakah sebuah karya grafis menggerakkan emosi pembacanya? Dapatkah media yang berbeda tetap mengusung pesan moral dan tidak melunturkan nilai kesan yang diperoleh dari versi non grafisnya? Itulah yang ingin saya ketahui kala meraih buku ini.

Mengenai kecantikan gambar, kepiawaian Kim Dong Hwa tidak perlu disangsikan lagi. Indra penglihatan dibuat sejuk oleh warna-warni yang menghiasi setiap frame dan halaman. Ketiga belas cerita yang dipaparkan di sini tidak berpanjang lebar, proporsional. Amat pas untuk tipe pembaca yang tidak begitu meminati buku berlabel ‘mencerahkan’ seperti saya.

Semua kisah nyata yang dimuat novel grafis ini bagus dan menggerakkan hati, namun yang nyaris membuat air mata saya menganaksungai [ditahan sedemikian rupa sebab bacanya di depan Mas Agus] adalah Aku Tak Dapat Memenuhi Permintaanmu yang ditulis Stan Gebhart [hal. 22]. Anak, yang merupakan permata hati dan perekat cinta dalam keluarga, acap kali diabaikan setelah ia hadir. Dan itu tidak hanya berlangsung sebentar. Atau pada satu orang belaka. Sebagaimana umumnya drama Korea, kisah satu ini dipungkas dengan mencabik hati.

Tak kalah memikat, kisah berikutnya yang berjudul Seandainya Aku Membesarkan Anak Lagi [Diane Loomans]. Kendati naratornya adalah seorang ayah, kalimat demi kalimat penuh pembelajaran bagi semua orang tua yang berpredikat ibu, paman, bibi, nenek, dan kakek sekalipun.

Aku akan lebih banyak menggunakan jari-jariku untuk menggambar daripada untuk menegakkan disiplin.

Aku akan berusaha lebih keras untuk memahami anakku, dan tidak terlalu memaksakan kehendakku padanya.

Aku akan lebih mengikuti anakku dengan mataku, daripada mengamati jarum jam.

Jika membesarkan anak lagi, aku akan mengurangi minat untuk belajar lebih banyak, dan belajar lebih banyak tentang menaruh minat dalam segalanya.

..Aku akan lebih sering memeluknya daripada memarahinya.

Aku tidak akan menjadi orang yang mencintai kekuatan, tetapi orang yang memiliki kekuatan cinta [hal. 32-36]

Nasihat Nenek-nya Mike Buettell merupakan cerita yang patut dibaca berulang kali, mengenai hal yang akan kita tuai tergantung yang kita tabur, meski waktu memanennya tidak pernah diketahui. Dengan napas Korea yang kental, tergambar contoh yang mungkin sering dipandang sepele, yakni upaya seorang nenek mengiriskan makanan untuk cucunya yang masih kecil.

Kemudian, saya ditampar oleh ucapan seorang lelaki Indian, “Jika terus-menerus mengatakan lapar, padahal tidak ada apa pun untuk dimakan, kita akan semakin lapar.” [hal. 70]

Pekerjaan Ayahku [Ed Buttell] membakar semangat saya untuk tetap mendukung Mas Agus di bidangnya yang sekarang, menggarap konstruksi rumah. Perjalanan Ajaib Soon-ok Shin menggetarkan batin saya dengan teramat sangat sebab dalam toko buku bekas yang dikunjungi sang editor, ia mendapati novel Pollyanna. Cerita ini mengajak kita untuk menghargai semua buku bekas, karena sampai ke tangan-tangan orang yang dapat memetik manfaat darinya.

Kisah Seorang Pencuri membuat saya dan Mas Agus tertawa, musababnya adalah kalimat ini, “Pengalamanku mengatakan orang yang membaca banyak buku cenderung berkepribadian tenang dan tertata apik. Mereka mengunci pintu dengan baik, dan kesempatannya kecil bagi perampok seperti aku untuk mendobraknya.” [hal. 126]

Bisa dikatakan, saya jauh lebih mampu menikmati Chicken Soup dalam format novel grafis daripada buku kumpulan kisah dan film.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.