Peribahasa (dan Pepatah) Mencerminkan Budaya

August 15, 2011
2 mins

Judul tulisan ini terilhami uraian mengenai peribahasa, pepatah dan kaitannya dengan nilai-nilai yang dianut di sana.

Tanpa sengaja, saya menemukan daftar singkat Peribahasa Afrika. Di sini kekhasan (alam dan lingkungan) terlihat jelas memengaruhinya.

Contoh:

You do not teach the paths of the forest to an old gorilla (Congo)

Entah mengapa, yang langsung terlintas di benak saya adalah versi bahasa Sundanya yakni ngabejaan bulu tuur. Mungkin seperti makna mengajari ikan berenang.

The dog’s bark is not might, but fright (Liberia)

Ini senada dengan air beriak tanda tak dalam atau tong kosong nyaring bunyinya.

A tree is known by its fruit (Zulu)

Saya ragu antara buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya atau Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Berikut saya kutip beberapa dari tautan peribahasa Prancis di situ.

à bon chat, bon rat

Saya pernah mendengar bahasa Jawanya (tidak tahu persisnya), seperti ‘botol bertemu tutup’. Intinya semua ada pasangannya.

à mauvais ouvrier point de bons outils

Arti harfiahnya, pekerja yang kurang bagus menyalahkan peralatan. Agaknya bisa disetarakan dengan ‘mencari kambing hitam’.

après la pluie, le beau temps. Sesuai uraian di web tersebut, versi Inggrisnya adalah every cloud has a silver lining. Bisa dipadankan dengan habis gelap terbitlah terang atau di balik kesulitan ada kemudahan.

Peribahasa Cina kuno tak kalah menariknya sehingga menurut saya lebih baik dipertahankan sebagaimana aslinya. Berikut yang saya tengok:

“Good words are like a string of pearls.”

“Talk does not cook rice.”

“The gem cannot be polished without friction, nor man perfected without trials.”


Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.