Pelajaran Ekonomi

January 11, 2011
2 mins

Pada waktu itu, novel Happy-Go-Lucky baru terbit. Keponakan saya yang masih SD memegang buku tersebut dan melontarkan banyak pertanyaan.

P (ponakan): Ini ilustrasinya Tante buat sendiri?

Saya: Bukan. Ada ilustrator yang ditunjuk penerbit.

P: Jadi Tante hanya nulis ceritanya?

Saya: Iya, isinya. Judulnya dari aku, terus nyari testimoni di

belakang ini, kata pengantar juga aku yang bikin.

P: Harganya yang nentuin penerbit?

Saya: Iya dong. Tapi kita udah tahu kalo tebalnya sekian, kira-kira harganya jadi berapa.

P: Makin tebel, makin mahal ya. (manggut-manggut) Oh ya Tante, pembayarannya gimana?

Saya: Itu namanya royalti. Ada persentase per buku yang terjual.

P: Oh, kayak komisi?

Saya: Iya. jadi tiap 4 bulan sekali, ada laporan berapa yang laku.

P: Tante udah dapat berapa?

Saya: Yang ini kan baru terbit. Aku belum tahu. Tapi kalo dari yang udah, aku dapet…(saya menyebutkan nominal).

P: Sedikit dong, Tante.

Saya: Kamu bilang gitu karena dibagi empat ya?

P: Iya. Soalnya kebutuhan sehari-hari aja kata Ibunda per bulan..(ia menyebutkan nilai).

Saya: Memang kalo diliat dari situ tampak sedikit. Tapi kalo dihitung dari nilai kerja aku nulisnya, banyak. Soalnya aku nggak perlu pergi ke mana-mana, hanya ngeluarin biaya listrik..

P: Makan juga. Kan ngetik itu capek.

Saya: Oh iya, Nak. Waktu juga, tapi itu kan bukan biaya operasional ya?

P: Kertas nggak diitung?

Saya: Aku nggak perlu nge-print. Dikirim via email aja.

P: Oke, makasih, Tante. (Ia mendongak ketika ibunya memasuk ruangan).

Bunda, aku abis belajar ekonomi sama Tante Ade.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.