Pelajaran dari Menyunting ‘Jumpalitan Menjadi Ibu’

January 19, 2011
7 mins

Tidak ada karya yang ‘sempurna’. Setiap penulis, sekalipun sudah menerbitkan buku, senantiasa membutuhkan penyunting dan korektor. Bukan bermaksud ‘meninggikan’ posisi saya dalam penggarapan buku ini, sebab kala saya menulis, saya pun memerlukan mata tajam editor.

Menulis karya bersama menuntut komitmen. Satu orang terlambat, yang lain ikut tersendat.

Reputasi mesti dijaga. Penulis yang telah melahirkan buku, utamanya lebih dari satu, harus lebih cermat dan mempertanggungjawabkan nama. Alangkah lebih baiknya lagi bila dapat mencetuskan gagasan baru dan meningkatkan kualitas. Tentu, ini tak berarti penulis yang baru melangkah ‘lolos’ dari kewajiban moril tersebut.

Sebuah buku adalah kerja tim dan menyunting Jumpalitan Menjadi Ibu ini kian meneguhkan kesadaran saya bahwa berbagai tahap harus dilewati, tidak boleh terburu-buru. Sebut saja revisi (skala besar dan kecil), pengarahan penulis, diskusi dengan editor in house selaku penanggung jawab dan koordinator penulis (dalam hal ini Mbak Dee, yang dengan jeli memilih kontributor), seleksi cover dengan segala aspeknya, dan bolak-balik merumuskan sub judul.

Mbak Dee (MD): Kalau pakai keseharian, tampaknya kurang ‘nendang’, deh. Nanti pembaca berpikir, “Yah, gua juga udah ngalamin setiap hari.”

Bener juga. Bener banget, malah.

Saya: Hari-hari Seru dan Heboh Para Ibu?

MD: Itu pengulangan kata Ibu, dong.

Saya: *tepok jidat* (Sebelumnya, naskah ini dijuduli Jumpalitan Menjadi Mama).

Saya: Yang Seru! Yang Heboh! Yang Menegangkan!

MD: Dipeleh..dipeleh…

*kami tertawa bareng*

MD: Sebentar..kayaknya sebagian besar cerita tentang ibu dan anak, ya Teh?

Saya: Iya Mbak, walaupun tidak semua…rasanya.

MD: Hiruk-pikuk Para Ratu Rumah Tangga Mengasuh Anak..

Saya: Hiruk-pikuk Para Ratu Rumah Tangga Merawat Anak, mungkin? Kan tidak semuanya tentang anak yang masih kecil:)

Berikut catatan pengarahan umum yang saya buat untuk para kontributor JMI melalui email:

Seperti yang sudah kita bersama ketahui, buku parenting – khususnya dari segi ibu – banyak sekali ditemui di pasaran. Sebagaimana yang pernah saya baca di buku Agus M. Irkham (Bestseller Sejak Cetakan Pertama), genre ini tidak mengenal tren dan insya Allah selalu dibutuhkan. Berbagai sudut dapat digali dan diangkat ke dalam tulisan, agar tidak terjadi repetisi dan monotonnya topik yang dihadirkan.
Terlebih teman-teman di sini adalah penulis produktif, beberapa di antaranya sudah pula menulis untuk tema sejenis.

Secara teknis, arahan umum yang kuminta untuk revisi JMM adalah fokus cerita. Karena begitu beragam dan serunya keseharian seorang ibu, wajar saja bila penulis terdorong untuk menumpahkan dalam jumlah halaman yang terbatas. Akan tetapi mengingat pembaca kita mencari sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada, berasal dari aneka latar belakang, sangat dianjurkan apabila tulisan terkonsentrasi ke satu titik dan warna-warninya terlihat. Menurut pengamatanku, problematika yang kerap muncul dalam buku-buku antologi adalah kemiripan tulisan para kontributor. Tidak perlu sebut judul, ya? Kuyakin teman-teman pun pernah mendapatinya.

Selain itu, walaupun ini non fiksi yang ringan, karena berdasarkan
pengalaman dan bukan How To yang cenderung kaku, sangat diharapkan gaya tuturnya cair. Cair dalam arti mudah dicerna, namun hindari seminimal mungkin bahasa yang terlampau gaul. Oleh sebab itu aku meminta beberapa penulis memangkas pemakaian gaya tersebut, kendati tidak dipungkiri bahwa ada yang sudah lekat dan terbiasa dengan cara bercerita yang demikian. Hindari pula menyatakan sesuatu yang berlaku umum (baca: sudah menjadi premis di kalangan masyarakat), semisal “menjadi ibu itu memang repot..” dan seterusnya. Seimbangkan antara keceriaan dan keruwetan yang terjadi, sehingga pembaca menangkap pesan, “Oh, jadi ibu itu benar-benar tidak mudah tapi seru, kok.”

Kembali pada pembahasan tema yang terkait hubungan ibu dan anak, aspek yang ditelisik amat banyak. Jangan sampai bingung (dan diperlukan riset pula tentunya) yang buntutnya terjebak dalam keseragaman.
Berikut beberapa contoh yang dapat dinukil:

Hubungan dengan orang lain di luar keluarga
1. Pembantu rumah tangga. Bagaimana cara ibu-ibu mengajari anak
memperlakukan PRT dengan baik? Bingungkah anak ketika PRT berganti atau libur?

2. Guru. Apakah anak pernah curhat mengenai guru? Guru kesayangan, guru yang kurang disukai? Bagaimana Ibu menanggapi ini?

3. Teman-teman. Kadang anak membawa ‘oleh-oleh’ mengejutkan dari hasil pergaulan. Misalnya istilah/kosakata baru. Bagaimana Ibu
menerangkannya?

Hubungan dalam keluarga
1. Ketika Nenek/Kakek/Pakde/Tante meninggal, adakah pertanyaan yang spesifik dan unik dari anak?
2. Bagaimana trik Ibu apabila anak dan adiknya berjarak usia cukup
jauh? Jika anak-anak berbeda jenis kelamin, apakah ada perlakuan
khusus dan pendidikan yang diterapkan untuk itu? Terlepas dari
kesamaan lelaki dan perempuan dalam beberapa hal, ada segi-segi yang menuntut mereka dibedakan.

Lain-lain
1. Bagaimana Ibu (bekerja sama dengan Ayah atau pihak lainnya)
memfilter anak dari tontonan yang kurang baik?
2. Bagi yang sudah punya anak menjelang remaja dan mulai berkenalan dengan jejaring sosial di dunia maya, seperti apa pemantauan yang diterapkan? Apakah ada pembatasan jam online, atau Ibu mewajibkan anak terbuka soal password, dan sebagainya?
3. Mengajari anak mandiri. Di usia berapa Ibu membiasakan anak
membereskan tempat tidur sendiri, pergi bersama orang dewasa lain yang bukan orangtuanya (misal ke luar kota bersama Om dan Tante), serta proses bertahap untuk itu..

Demikian ide-ide yang perlu kuutarakan. Ini bukan berarti teman-teman harus mengubah total (meski beberapa penulis diminta melakukan revisi besar), namun membubuhkan beberapa hal agar tulisan semakin segar.

Pelajaran lain dari karya para penulis hebat ini:

  1. Kisah seorang ibu tidak selalu harus sendu, bisa disuguhkan dengan ceria tanpa kehilangan pesan.
  2. Sekalipun bergenre non fiksi, pengalaman yang seru dapat menjadi makin asyik jika ditulis dalam format ala cerpen.
  3. Fokus bercerita berarti satu topik spesifik, satu latar waktu, sedapat mungkin dengan fakta berimbang dan mengandung jalan keluar.
  4. Porsi cerita yang fun dan mengharukan perlu ‘disetarakan’.
  5. Meraba karakter pembaca yang beragam berikut keunikannya. Terima kasih pada Tria Ayu, yang menyampaikan pendapat bahwa ia gemar membaca buku kompilasi dari belakang. Masukan yang amat bermanfaat:)

Akhir kata, terima kasih pada semua pihak yang terlibat, khususnya para kontributor yang bersedia bekerja keras.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

17 Responses for this article

  1. on
    January 19th, 2011

    Terima kasih juga sudah menjadi editor super teliti :D.

  2. Rini Nurul
    on
    January 19th, 2011

    Wahaha, aamiin..semoga tidak banyak yang terlewat olehku:)

  3. on
    January 19th, 2011

    share ya 🙂
    hahaha, masih ingat toh, cara membacaku itu 😀

    • Rini Nurul
      on
      January 19th, 2011

      Monggo, Jeng:)
      Ingat dong, kan jadi bahan diskusiku dengan Mbak Dee juga:D

  4. on
    January 19th, 2011

    Baru tahu kalau pindah kesini, Rin. :)Terima kasih sudah membaca tulisanku di buku ini *nyungsep malu banyak yang harus dibenahi :p

    • Rini Nurul
      on
      January 19th, 2011

      Hehehe..insya Allah Fita bisa lebih baik lagi:)

  5. on
    January 19th, 2011

    “Sebuah buku adalah kerja tim dan menyunting Jumpalitan Menjadi Ibu ini kian meneguhkan kesadaran saya bahwa berbagai tahap harus dilewati, tidak boleh terburu-buru. Sebut saja revisi (skala besar dan kecil), pengarahan penulis, diskusi dengan editor in house selaku penanggung jawab dan koordinator penulis (dalam hal ini Mbak Dee, yang dengan jeli memilih kontributor), seleksi cover dengan segala aspeknya, dan bolak-balik merumuskan sub judul.”

    Hihihi. Jadi inget waktu aku masih jadi editor in-house, Mbak. Kalau udah giliran mikirin judul, subjudul, ma sinopsis…haduuuh. Puyeeng 😀

    • Rini Nurul
      on
      January 19th, 2011

      Pastinya. Printilan yang kerap menghadang dan serasa tak selesai-selesai, ya Aini, padahal baca naskah berulang kali sampai titik-komanya itu sudah teler:))

      • on
        January 24th, 2011

        Hahaha. Betuuul sekali :))

  6. on
    January 20th, 2011

    dari blog mbak aan, nemu blog mbak rini yang baru 🙂 klo mbak rini yang jadi editor, bukunya kayaknya bgs nih. *jadi ingat saat mbak rini jadi juri lomba SK*

    • Rini Nurul
      on
      January 20th, 2011

      Aamiin, terima kasih, Fety.
      Ditunggu komentarnya kalau sudah membaca buku ini nanti, ya:)

  7. Nunik
    on
    January 21st, 2011

    Waahh… Menulis buku kompilasi menurutku memudahkan bagi penulis (sebab tidak perlu membuat tulisan sepanjang ratusan halaman untuk menjadi sebuah buku, cukup menyetor karya berupa satu cerita), tapi rupanya sangat merepotkan orang-orang di balik layar, ya. Harus tekun memerhatikan cerita satu demi satu agar tidak ada cerita yang sama, harus memeriksa tulisan satu persatu agar seragam dalam kualitas, dan masih banyak lagi. Salut!

    • Rini Nurul
      on
      January 21st, 2011

      Terima kasih, Nik, itu sudah tugasku:)
      Memang semestinya rajin tilik ulang, apalagi kalau penulisnya sering ikut antologi dan sekarang buku jenis ini sedang naik daun kembali.

  8. on
    January 22nd, 2011

    terima kasih juga utk arahan dan masukannya, mb rini 🙂
    btw, maafkan pertanyaan bodoh ini. aku kurang paham dgn pendapat mb ayu yg membaca buku kompilasi dr belakang. kenapa ya? 😀
    terima kasiiih 🙂

    • Rini Nurul
      on
      January 22nd, 2011

      Terima kasih kembali, No.
      Ini terkait penyusunan urutan tulisan. Jadi aku pernah mendengar dari seorang editor senior, sebaiknya yang paling menarik (menurut subjektivitas editor) ditaruh di depan, medium di tengah, dan seterusnya. Aku juga berpraduga bahwa ke belakang-belakang, jarang yang memperhatikan lagi. Ternyata Ayu mengemukakan kebiasaannya yang unik, membaca antologi dari belakang dulu. Maka kuubahlah pemikiran itu. Demikian, semoga jelas ya:)

  9. Ririen (Saptorini)
    on
    January 26th, 2011

    Assalamualaikum Mbak Rini. Meskipun bertahun-tahun kerja di bag editing, tapi tetap terperangah dengan cara kerja Mbak Rini. Pingin belajar jadi editor andal, nih!

    • Rini Nurul
      on
      January 26th, 2011

      Waalaikumsalam wr.wb, Mbak Ririen.
      Wah, terima kasih. Saya masih belajar, gimana kalau Mbak Ririen yang berbagi pengalaman? Pasti seru.