Multitasking Tak Mudah Lagi di Usia 30-an

November 08, 2010
2 mins

Saya bukan  menyalahkan umur, hanya mencari alasan ngawur karena bingung. Barangkali karena semasa usia dua puluhan, saya bekerja terlalu keras..dan kini semakin keras.

Orang bilang, multitasking adalah keahlian perempuan. Saya tersanjung meski tak begitu yakin. Katakanlah bila saya menghangatkan sayur sambil membaca buku, dijamin gosong karena kelupaan. Tapi jika saya mencuci sambil mengetak-ngetik, masih bisa dijalankan.

Idealnya, seorang freelancer menggarap satu proyek di satu waktu. Tetapi rasa jemu yang kerap menghinggapi seorang pekerja dinamis acap kali tidak membolehkan itu, meski hanya dengan satu pekerjaan singkat. Tentu tidak masalah, asalkan tidak tumpang tindih dan menimbulkan dampak sistemik. Bila yang datang belakangan malah mendesak, yang sudah lebih dulu berjalan bisa terlambat. Dan ini ‘petaka’ bagi kepercayaan klien, terlebih jika kerjasama baru pertama kali terjalin.

Untuk itu, saya belajar tega. Hati sesekali menangis juga, kala satu seri novel yang tadinya hendak dipercayakan pada saya dioper ke penerjemah lain. Tapi masalah kualitas tidak boleh main-main, demikian pula badan saya yang sudah sering disiksa sewaktu remaja ini.  Jadi apa ‘selingkuhan’ proyek saya? PR resensi. Sudah nyaris dua bulan saya tidak membaca buku baru, dan pasrah dicap penunggak.

Suatu ketika, penyuntingan yang saya kerjakan membutuhkan tempo lebih lama. Klien setuju memberikan perpanjangan sebulan lagi. Kemudian saya menatap jadwal bulan ini, ditambah masa-masa ‘kritis’ alias PMS yang kerap menuntut badan beristirahat lebih banyak. Agar tidak terlena dan menimbulkan tabrakan beruntun, saya tancap gas. Internet tetap terkoneksi, tapi teman-teman di YM lebih sering saya anggurkan, sebab…saya ngebut sekitar 8 bab terakhir. Alhamdulillah.

Setelah itu, saya tepar dua hari. Mata pedih. Padahal itu terjemahannya cantik. Bayangkan bila koreksi yang harus dilakukan bikin berdarah-darah.

Ini bukan kali pertama. Saya pernah ngebut editan naskah lokal sepanjang 120-an halaman dalam 4 hari. Mengapa bisa? Karena tulisannya sudah terstruktur, hanya membenahi sedikit. ‘Surga’ bagi editor.

Sekarang, otak saya masih gelimpangan karena tidur semalam tidak pulas. Namun perlahan tapi pasti, saya akan fokuskan pada editan di depan mata, biar cepat rampung dan hati lapang..tak punya utang!:D

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    November 8th, 2010

    hodoh! rasanya berat nian…mulai batasi pekerjaan mbk, biar bisa lebih banyak istirahat dan bersenang2 *halah, kayak apaan

    • on
      November 8th, 2010

      Iya, benar.. jangan lupa dihajar deadlinenya dengan makanan yang bergizi.

      • Rini Nurul Badariah
        on
        November 8th, 2010

        Tengkyu juga, Tya:) Selamat menghajar skripsi ya, dan selamat untuk kemenanganmu:D

    • Rini Nurul Badariah
      on
      November 8th, 2010

      Hihihi…kadang kerja juga bisa jadi senang-senang..apalagi kalau tahu proyeknya berkelanjutan dan dinilai empat bintang.
      Thank you atas perhatiannya, Sinta. Dan jaga kesehatan juga ya;)