Morning Glory (2010)

April 13, 2011
2 mins

Saya tahu, ‘fanatik’ terhadap satu aktor sebenarnya tidak boleh. Bisa menjatuhkan harapan sendiri. Sebut saja Sandra Bullock dengan All About Steve, Meg Ryan dengan Perfect Moonlight (kalau salah maaf, saking tidak berkesannya sih), dan kemarin…Jack Nicholson sekaligus Reese Witherspoon dalam How Do You Know.

But there are things that you can just never get enough of.

Seperti apa Harrison Ford dalam sebuah drama lucu dan ‘ringan’? ‘Ringan’ dalam arti tanpa dor-dor-dor, menuntut perwatakan mendalam, banyak dialog, dan karakter yang kuat? Di film ini, ia memerankan presenter senior yang lagi-lagi terkesan egois, arogan, dingin, dan bengis. Nyaris mirip dengan Extraordinary Measures tapi saya suka.

Rachel McAdams memerankan Becky Fuller, seorang pekerja stasiun televisi yang diberhentikan akibat perampingan dan langsung menyambar pekerjaan pertama yang ditawarkan setelah melamar sana-sini. Becky ini karakter khas film drama komedi romantis, atau chicklit, yang cantik, kikuk, dan sering harus menjedotkan kepala ke tembok karena salah bicara. Tapi cerdas.

Satu lagi yang menjadikan film ini bersinar adalah Diane Keaton. Saya sudah jatuh cinta padanya sejak film Something’s Gotta Give. Keaton memerankan presenter wanita eks ratu kecantikan yang kerap berseteru dengan Mike Pomeroy (Ford), namun dengan gemilang tetap berusaha kompak di depan kamera. Satu pelajaran mengenai profesionalisme.

Becky sudah cukup berjuang untuk kerja sama dengan Mike yang bertemperamen sulit, dan atasannya (Jeff Goldblum) tahu-tahu menyampaikan bahwa tayangan Daybreak akan diberhentikan segera karena rating. Problem tipikal stasiun TV. Dalam jibakunya ini, Becky yang tidak mau merasa bersalah karena terus bekerja, melakukan lompatan drastis. Saya paling suka ucapannya yang berterus terang tentang kekasih seorang bos.

Adegan lain yang memesona?

Ketika Becky duduk di meja rapat pertama kali sebagai executive producer yang baru, semua berebut bertanya kepadanya, dan ia bisa mengingat semua berikut memberikan jawaban yang tepat.

Ceritanya jelas mengesankan. Dengan gaya eksentrik, Mike Pomeroy mengingatkan bahwa workaholic memiliki sisi negatif. “You will end up with…nothing.”

I love Harrison Ford. Period.

Rating: 4,5/5

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
Harmony (2009)
NEXT ARTICLE
Loverboy (2005)