Mitos-mitos Keliru Mengenai Penerjemah Buku

January 10, 2011
38 secs

Ihwal cara merintis karier di bidang ini, silakan baca blog Femmy Syahrani.

Berikut beberapa mitos yang sering saya dengar/baca tentang profesi penerjemah buku, beberapa telah tercantum dalam uraian Femmy tersebut.

1. Harus berlatar belakang Sastra. Cukup banyak penerjemah yang bukan lulusan sastra/bahasa asing sanggup mengerjakan tugasnya dengan baik, bahkan menjadi pakar di area ini. Sebaliknya, yang lama bermukim di luar negeri atau fasih berbahasa asing secara lisan belum tentu menguasai teknik penerjemahan buku.

2. Memperoleh uang muka.

3. Mendapatkan royalti seperti halnya penulis. Terus terang, bila sistem ini yang diberlakukan, saya akan berpikir ulang untuk menjadi penerjemah buku.

4. Wajib mengantungi sertifikat penerjemah bersumpah seperti halnya penerjemah dokumen hukum. Penerjemah buku bekerja dengan modal kepercayaan. Saya pribadi belum pernah bertemu muka dengan hampir semua klien, kebanyakan berkomunikasi dengan telepon dan/atau email.

5. Bekerja kantoran/berstatus pegawai di sebuah penerbit. Memang ada editor in house yang merangkap penerjemah di tempatnya bekerja, tetapi rata-rata penerjemah buku bekerja lepas dari rumah.

6. Menawarkan judul buku yang kira-kira diminati atau dianggap ada pasarnya. Ini bisa saja apabila penerbit memang membuka peluang atau sudah kenal baik dengan kita, namun tidak selalu dapat dilakukan. Beberapa penerbit menyewa first reader/reviewer untuk menelaah calon naskah terjemahan mereka.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.