Bestseller (2010)

January 17, 2011
2 mins

Demikian pula dalam film Korea Best Seller.

Karier Baek Hee-soo (Uhm Jung-hwa) semrawut karena buku larisnya (bukan karya perdana) dinyatakan sangat mirip dengan sebuah buku yang telah lebih dulu terbit. Ia mengurung diri selama dua tahun dan pernikahannya berantakan.

Atas anjuran editornya, yang tidak percaya bahwa Hee-soo menjiplak, wanita tersebut mengatasi writer’s block untuk menggarap karya terbaru di sebuah vila yang dahulu dikenal dengan Missionary John Bates Orphanage. Ia membawa serta putrinya, Yeun-hee. Hee-soo lagi-lagi termangu sehingga membutuhkan bantuan Yeun-hee, yang mengaku diceritai seorang teman tak tampak di rumah tersebut. Ia menulis bagai ‘kesetanan’.

Apa lacur, novel baru yang sempat mendapat sambutan hangat masyarakat itu kembali diklaim sebagai plagiarisme atas sebuah buku yang terbit 10 tahun silam. Hee-soo terdesak dan berusaha mencari buktinya, karena bahkan sang suami, yang berprofesi sebagai dosen, terancam didepak dari universitas akibat kasus menghebohkan ini.

Saya menonton film ini terpenggal-penggal lantaran begitu seramnya. Awalnya, berdasarkan sinopsis, saya menduga Best Seller ‘hanya’ film thriller. Ternyata ada nuansa horor yang cukup kuat di dalamnya. Saya berusaha menikmati panorama lokasi, juga meja kerja Hee-soo serta lemari bukunya yang menggiurkan. Kali ketiga, saya baru bisa menonton sampai tuntas dan memahami alasan film ini menyabet sederet penghargaan. Konon, Best Seller akan dilayarperakkan pula di Hollywood.

Sepanjang cerita, Best Seller mengusung topik kebenaran dan kejujuran. Benarkah Hee-soo menjiplak? Benarkah Yeun-hee dibisiki teman tak kasat mata? Benarkah cerita yang ditulis Hee-soo fiktif? Benarkah ada penghuni lain di John Bates Orphanage?

Ide ceritanya lima bintang, terkhusus yang bersifat thriller psikologis. Lima bintang pula untuk Uhm Jung-hwa yang menguruskan badan sebanyak 7 kilogram demi film ini. Saya sangat menyukai sejumlah dialognya, di antaranya, “If you talk too much, things will get harder.” Saya tergelak saat sang editor berujar, “Is this a true story? Let’s just say that, so it will be more controversial.”

Para penulis dianjurkan menonton film ini. Dijamin Anda akan berpikir-pikir untuk begadang sendirian, apalagi bila meja kerja menghadap jendela.

Sumber gambar: asianmediawiki.com

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
27 Dresses (2008)

4 Responses for this article

  1. on
    January 18th, 2011

    wah, mbak, kamar saya begitu, komputer menghadap jendela…. h2c, semoga gada apa apa 🙂

    • Rini Nurul
      on
      January 18th, 2011

      Hihihi..
      kan nggak buka tirai, Nur. Atau dibuka malam-malam pun?:D

  2. on
    January 24th, 2011

    Mbak Rini, tampilan websitenya makin asyik 🙂 tapi, untuk bagian film, agak susah tahu judul filmnya ya kalo nggak baca langsung 😀

    • Rini Nurul
      on
      January 24th, 2011

      Terima kasih, Yan. Iya, kusengaja:)