Sinar mata yang biasanya selembut rembulan itu meletupkan bara.

“Apa maksudmu berpisah? Kamu sedang main-main?”

“Aku serius, Adri,” tanganku berkeringat saat meneguhkan diri. Memandang setiap lekuk di wajah pemuda itu akan menguapkan tekad yang telah kuhimpun.

“Sejujur-jujurnya, aku tidak merasa berbuat kekeliruan. Demikian pula kamu, bukan? Mengapa tiba-tiba..” Adrian tidak menyelesaikan kalimatnya. Agaknya ia dapat menerka jalan pikiranku.

“Jangan katakan ini berkaitan dengan mimpi konyolmu itu, Firas.”

“Tolong jangan sebut itu mimpi konyol,” aku memohon.

“Lalu apa? Bodoh? Tolol? Dungu? Firas, kukira kamu gadis yang kuat. Ini bukan saatnya memercayai bunga tidur.”

“Aku memimpikannya tidak hanya sekali,” aku berusaha tak berteriak. Adrian akan semakin berang jika aku tak dapat menahan diri. “Bahkan seminggu ini, tiap malam berturut-turut aku melihatnya.”

“Apa yang kaulihat?” Adrian benar-benar menyangsikanku.

“Jangan minta aku menggambarkannya. Terlalu jelas dan mengerikan.”

“Mungkin ada hal lain yang kamu cemaskan. Aku bisa membawamu ke..”

“Tante Hana?” aku menyebut nama kenalan baik kami yang psikiater kondang itu. “Ini tidak ada hubungannya. Tapi kalau kamu tak percaya, aku bisa mengerti.”

Aku sangat mengerti. Begitu pulalah yang kurasakan kala mendapati lembaran catatan harian Mama. Helaian bertuliskan kisah pedih yang disaksikannya dalam mimpi. Dan aku mengecamnya karena itu.

“Kalau Mama tahu Papa akan meninggal, mengapa diam saja? Mengapa Mama tidak melakukan sesuatu?”

“Apa yang dapat Mama perbuat, Firas? Tak seorang pun dapat melawan kehendak Tuhan.”

“Kalau begitu untuk apa Mama mempunyai kemampuan itu? Sekadar menakut-nakuti diri sendiri dan orang lain?”

Air matanya membanjir. Mama menumpahkan sedu-sedannya karena tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun. Aku tahu, ia bahkan tidak menyampaikan mimpi kelabu itu kepada Papa. “Kalau saja Mama boleh memilih, Firas… Mama ingin bertukar tempat dengan papamu.”

Aku mungkin akan lebih ikhlas apabila Papa berpulang dengan hati berselimut kebahagiaan.

Dua puluh tujuh Mei 2006, matahari belum lagi meninggi saat wajah presenter berita di saluran televisi favorit kami memperdengarkan kabar yang membuat jantungku hampir lepas.

“Saudara, gempa tektonik berkekuatan 5, 9 skala Richter baru saja terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah selama lima puluh tujuh menit. Belum ada laporan terperinci mengenai jumlah korban jiwa dan luka-luka akibat peristiwa ini. Juga bangunan yang runtuh dan ….”

Papa berada di kota gudeg itu seorang diri, baru kemarin ia pamit.

“Papa rindu Prambanan, Firas. Di sana Papa melukis mamamu, kemudian meminangnya.”

Jari-jari Mama bergetar hebat saat menekan nomor ponsel Papa. Tidak tersambung. Setengah menangis, ia berulangkali memijit tombol Redial. Aku terpaku di tempatku berdiri, sebisa mungkin mengucapkan doa di antara rintihan kecemasan.
“Papa..Papa..jangan tinggalkan kami..”

“Firas,” sentuhan jemari Adrian di pundakku membuyarkan lamunan. “Semua orang akan dipanggil Tuhan pada waktunya. Semua. Kamu, dan juga aku.”

“Tapi aku tak sanggup melihatmu pergi. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku takkan tahan menanggung kesendirian setelah kamu tinggalkan.”

Adrian mengembuskan napas. “Apakah kamu yakin dengan cara ini, kamu akan lebih tenang?”

“Apa maksudmu?” kutatap ia penuh selidik. Jangan-jangan ia merahasiakan sesuatu. Jangan-jangan Adrian menyembunyikan penyakit kronis atau semacam itu.

“Anggaplah aku memang akan mati. Tapi tidakkah kamu menyesal karena tidak mendampingiku sebelum saatnya tiba?”

Sekarang airmataku menderas. Adrian membimbingku ke tempat duduk dan menyodorkan segelas air putih. “Firas, cepat atau lambat, kapan pun itu, aku ingin kamu ada di sisiku.”

“Aku takut..”

Sepeninggal Papa, kematian menghadirkan sejumlah mimpi menakutkan yang mencekam batinku. Kepergian Mama menggenapkannya. Mungkin karena hatiku diselubungi penyesalan.

Aku menyalahkannya. Dan kini aku menerima hukumannya.

Apakah penglihatan kami hanya berlaku pada orang-orang terdekat? Mengapa hanya pada mereka yang kami cintai? Mengapa kami harus menelan perihnya derita sambil menghitung hari?

Kupandang Adrian yang duduk di sebelahku. “Kamu masih tak percaya?”
“Ceritakanlah apa yang kamu lihat. Itu akan membuatmu tenang.”

Aku berbaring di sofa, dengan mata terpejam. Kepalaku terasa pening. Adrian menyimak kata-kataku seraya memijit pelan lenganku yang terulur ke pangkuannya.

“Kamu berdiri di depanku, tapi aku tak bisa menggapaimu,” bayangan itu tergambar jelas bagaikan layar film. “Kamu tidak bersuara. Kamu tidak kesakitan. Tapi wajahmu pucat. Darah bercucuran di dadamu. Dan di sekitarnya gelap..”

“Benar-benar gelap?”

Aku berusaha mengingat. “Sebenarnya..ada yang samar-samar kulihat. Sepertinya aku mengenal tempat itu..”

“Hari itu, alam sedang murka. Gunung Merapi berguncang..”

Lagi-lagi Mama hanya bisa terisak. Kalimat-kalimat Papa serupa dongeng yang sering dikisahkannya padaku menjelang tidur dulu.

Nyawa Papa selamat. Tetapi tubuh-tubuh yang meregang sekarat terus menghantui benaknya. Tidurnya selalu berkawan kengerian. Puing-puing di depan mata, lolongan ibu yang kehilangan anaknya, hilir-mudik manusia menggapai pertolongan.

Lelaki pelindung kami telah jatuh serapuh-rapuhnya. Ia tak mengenali aku dan Mama lagi.

Sesungguhnya Papa tak pernah meninggalkanku. Aku melihatnya melambaikan tangan saat kami menjauh dari nisannya. Senyuman tersungging di wajah teduhnya.
“Papa berjanji akan selalu bersamamu, Firas.”

Kerinduanku senantiasa tertunaikan. Papa datang setelah malam gelap sempurna, mendengarkan keluh-kesahku.

“Pa, si Hitam mati mendadak. Tapi dia tidak sendiri. Teman-temannya satu kandang diajak serta.”

“Si Jago tidak membangunkan Firas lagi. Rasanya sepi tiap pagi.”

“Nuri juga harus dibunuh, Pa. Padahal dia tidak sakit.”

Mendadak paras Papa berganti sorot sedih mata Mama.
“Firas, hentikan, Sayang.”

“Tadi Papa ke sini. Mama melihatnya?”

“Firas,” kedua tangan Mama mengguncang pundakku. “Bangun Nak, bangun!”

“Firas tidak sedang tidur!!” tanpa sadar aku menghardik Mama. Ia terperangah.
“Maafkan Firas, Ma..maaf..”

Papa tak pernah muncul lagi di kamarku.
Lagi-lagi semua ini karena Mama.

Tuhan, mengapa ini terjadi padaku? Aku tak sanggup.. aku tak sanggup..

“Sampai kapan kamu menganggap Mama kejam, Firas?”

Bibirku terbuka. “Kalau Mama benar-benar mencintai Papa, Mama tidak akan membiarkan Papa berangkat sendiri?”

“Papa ingin Mama bersamamu. Berapa kali harus Mama katakan itu?”

Aku mematung.

“Sekarang apa yang kamu inginkan, Firas? Kamu mau Mama berbuat apa? Memutar waktu? Jika bisa, biarlah Mama yang meninggal lebih dulu!”

“Mama egois! Kalau itu yang terjadi, Papa pasti sangat terpukul!”

Tak ada lagi percakapan antara kami semenjak hari itu. Mama pergi sejauh-jauhnya.

Kepalaku benar-benar terasa berat. Jemari Adrian tak terasa lagi. Rupanya ia telah melepaskan tanganku.

Pandanganku kabur. Adrian berdiri di sebelah sofa, seperti dokter bedah yang siap melakukan operasi. Kebekuan di parasnya membuatku terkesiap.

“Tak usah bangun, Firas.”

“Kenapa..?” aku berusaha bangkit, tapi kembali jatuh terhenyak.

“Kamu tak mau sendirian, kan? Akan kukabulkan keinginanmu. Kamu tak mau melihatku pergi, maka sebaiknya kamu yang berangkat lebih dulu.”

Darahku tersirap.

“Bergabunglah dengan orangtuamu, Firas. Mereka sudah menunggu,” lengan kokoh Adrian mencengkeram batang leherku. Napasku mulai tersendat. Tapi aku tak mau menyerah.

“Jangan meronta, percuma saja. Ini akan mengakhiri kegelisahanmu. Kamu takkan mimpi buruk lagi karena kamu takkan pernah bangun,” suara itu mengiris pendengaranku. Aku tak mengenalnya. Aku tak pernah jatuh cinta pada pemuda sebengis ini. Entah mengapa aku mau ikut bersamanya kemari.

Kakiku menendang-nendang. Gelas di atas meja jatuh ke lantai. Jari-jari Adrian merenggang sejenak. Maka kusambar pecahan beling terdekat.

Ia memekik. Laki-laki yang kucintai melolong nyaring, kala kepingan gelas itu menembus dadanya. Aku menikamnya lagi, sampai leherku benar-benar bebas.

Adrian jatuh di kakiku. Lantai tepercik warna merah, yang berubah jadi sungai kecil dan kental. Aku terhuyung-huyung.

Kenapa aku? Kapan giliranku? Mengapa aku tak bisa mengetahui suratanku sendiri?

“Dia belum bisa ditenangkan,” pria berjubah putih itu mengamati wajah pemuda yang menyimak tulisan tangan di atas secarik kertas. “Kemarin kami terpaksa mengikat tangan dan kakinya. Firas benar-benar histeris.”

Dari balik kaca, nampak sosok seorang gadis yang tak lagi jelas kecantikannya. Rambutnya kusut masai dan matanya tak bercahaya.

“Ia terus menyebut dirinya pembunuh.”

“Saya dengar ditemukan bukti-bukti mengenai kematian ibunya.”

Pria berjubah putih membenarkan. “Waktu itu mereka bertengkar hebat dalam mobil. Ibunya sangat tertekan, tidak memperhatikan jalan dan mengalami kecelakaan.”

“Jadi Firas tidak..”

Pria itu menggeleng cepat. “Ia menyalahkan diri dan merasa telah membahayakan nyawa ibunya. Cukup tragis, sebab ia selamat dalam peristiwa itu. Melihat ibunya tewas dalam seketika membuat Firas dilanda trauma dan terus dihantui mimpi buruk.”

Si pemuda mengangguk-angguk prihatin.

“Bagaimana luka-luka Dokter?”

Pria tadi tersenyum tipis. “Hanya kena cakar dan tendangan. Tidak mengapa. Firas berhalusinasi karena terlalu ketakutan. Ia mengira kamulah yang berdiri di depannya.”

Pemuda bernama Adrian itu melangkah ragu, mendekati ruangan berlapis kaca tebal. Gadis yang berada di dalamnya melemparkan pandangan asing.

“Firas,” ucap Adrian lirih. “Kamu bukan pembunuh.”

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.