Menyunting Pirate Latitudes

March 21, 2013
48 secs

 

Saya belum pernah membaca novel Michael Crichton. Kalau film yang berasal dari novelnya, sudah beberapa. Antara lain Jurassic Park yang sampai postingan ini ditulis masih diulang-ulang di TV dan Disclosure.

Baru tahu Disclosure itu karya Crichton? Sama dong:p

Ketika menerima tugas menyunting satu ini, yang ada di lemari adalah Sphere dan Next. Dua novel yang sudah menunjukkan kemahiran dan luasnya minat Crichton, terkhusus di area sains fiksi. Saya sempat membaca bab awal Sphere bolak-balik, beserta bahasa Inggrisnya, kemudian memutuskan menunda dulu karena jadi menghambat penghayatan cerita Pirate Latitude ini yang sama sekali berbeda.

Mau tak mau, mulai bab kelima, saya membayangkan Johnny Depp dengan Pirates of Caribbean-nya. Lokasinya saja sama-sama di Karibia, hanya karakter sentralnya, Kapten Hunter adalah orang Inggris. Krunya unik dan terdiri dari beberapa orang Prancis. Salah seorangnya, Lazue, wanita berkemampuan istimewa yaitu bermata jeli sehingga malam hari pun tidak kesulitan.

Ceritanya bernuansa petualangan yang seru, mendebarkan, berunsur fantasi dan thriller, menjelaskan antara lain satu hal yang sudah lama saya ingin ketahui: bagaimana seseorang bisa langsung mati karena ditembak di mulut, bukan di kepala atau jantung.

Sependek pengamatan saya, buku-buku Crichton terbitan Gramedia digarap oleh para penerjemah terpilih. Oleh sebab itu, mungkin saya boleh berbangga karena menyunting salah satunya:)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

5 Responses for this article

  1. on
    March 21st, 2013

    Yeay, ada buku barunya Crichton lagi! Suka banget sama Michael Crichton, terakhir saya beli Timeline,fantasi juga. 😀
    Beruntung belakangan ini Gramedia memutuskan untuk cetak ulang hampir semua buku Crichton. Minatnya memang luas banget, dan menantang pemikiran. Dari Next yang rekayasa genetik sampe State of Fear yang pemanasan global.

    Abis baca State of Fear, saya sampe berhari-hari kepikiran soal global warming dan perubahan sikap suku pedalaman.
    Ada cerita di mana orang kota nanya, tetaplah hidup bersahaja dan sederhana, jangan biarkan hutan/ tanah adat dijual. Dibalas sama orang suku pedalaman, loh kebersahajaan membuat kami menderita, kurang makan, ribuan orang mati gara2 kena nyamuk, emang kenapa kami enggak boleh jual tanah kami supanya punya sedikit uang biar hidup lebih layak. Saya rasanya tertampar bangett…

    • Rini Nurul
      on
      March 21st, 2013

      Terima kasih, Mbak Tia. Semoga yang ini pun tidak mengecewakan:)

  2. Shinta N.
    on
    March 25th, 2013

    Salam kenal, Rini. Kebetulan saya browsing mencari terjemahan novel Michael Crichton di situs GPU dan senang sekali rasanya mengetahui bahwa ada lagi terjemahan novelnya yang terbit. Lalu setelah browsing sana sini, saya jadi tahu bahwa Rini editornya. Saya ingin bertanya, apakah galleon yang dimaksud di sinopsis itu adalah galiung (kapal layar besar yang dipakai di Eropa dulu)? Dan apakah di dalam novel juga ditulis kursif seperti itu? Mohon maaf ya, saya pembeli/pembaca buku yang kritis. Terima kasih atas perhatiannya. Dan lagi-lagi mohon maaf, siapa tahu saya sudah mengganggu atau menyinggung perasaan.

    • Rini Nurul
      on
      March 25th, 2013

      Mbak Shinta, salam kenal.
      Makna “galleon” = kapal layar Spanyol, seperti dijelaskan di sini. Terima kasih atas koreksi dan masukan Mbak, ini semata kelalaian saya karena baru tahu padanan “galiung”.
      Berdasarkan arsip suntingan, “galleon” dicetak kursif di novelnya. Mengenai sinopsis, sependek pengalaman saya ditulis oleh pihak GPU.
      Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf bila jawaban ini kurang memuaskan:)

      • Shinta N.
        on
        March 26th, 2013

        Terima kasih atas tanggapannya, Rini. Oke, saya puas dan bisa memaklumi penjelasannya.