Penulis: Stieg Larsson

Penerjemah: Nurul Agustina

Penerbit: Qanita

Cetakan: I, Desember 2009

Tebal: 904 halaman

Pribadi yang hangat dan ekstrovert seumpama buku yang terbuka. Tak sulit benar menerka apa yang dirasakan, yang dikemukakan, yang dipikirkan. Maka terpilihlah protagonis seperti Lisbeth Salander, sosok serba tertutup yang tidak peduli apa pendapat orang mengenainya. Ia telah dituduh tidak kompeten mengurus diri sendiri, bahkan keuangannya pribadi, ditambah segudang cap ‘menyimpang’ lainnya.

Dalam buku kedua trilogi Blomkvist dan Salander ini [di negara aslinya disebut trilogi Millennium], serpihan yang membentuk karakter Salander dikuliti sedikit demi sedikit oleh Stieg Larsson. Banyak hal dapat dikuak, mulai dari minatnya yang luar biasa terhadap matematika, rasa utang budinya kepada Palmgren, sang mantan wali yang ternyata belum meninggal, sampai standar moral yang tidak lazim di mata masyarakat umum.

Salander menjadi poros investigasi dikarenakan ia dicurigai sebagai pelaku penembakan sepasang jurnalis, Dag Svensson dan Mia Johansson. Keduanya tengah menggarap buku dengan topik amat penting untuk diterbitkan oleh Millennium, selain artikel yang dibutuhkan untuk edisi khusus. Perdagangan seks, atau dikenal dengan istilah trafficking, dibahas panjang lebar berdasarkan disertasi Mia. Penelusuran mendalam yang penuh risiko berlangsung, karena Dag mencantumkan beberapa nama oknum yang terlibat dalam eksploitasi seksual wanita di bawah umur. Antara lain petugas kepolisian dan wartawan. Maka tatkala keduanya ditemukan dalam keadaan tewas, tema buku dan liputan tersebutlah yang ditengarai sebagai penyebab.

Namun tidak mungkin sebuah kebusukan diselubungi hanya karena dua orang yang hendak menyingkapnya dibunuh. Terlepas dari bukti-bukti di TKP yang menunjuk pada Salander, terlebih walinya Advokat Nils Bjurman pun didapati telah tak bernyawa, Blokmvist meyakini suara hati bahwa gadis yang pernah berhubungan dengannya itu tidak bersalah. Di sisi lain, motif menampakkan wajah sedangkan tidak bisa dipungkiri bahwa Salander memiliki kecenderungan tinggi terhadap kekerasan. Ia bukan hanya melawan bila diganggu, tetapi balas menyerang dengan kekuatan lebih besar. Di samping itu, Salander telah lama menghilang dan sukar ditelusuri keberadaannya.

Dengan cerita yang semakin berisi, Stieg Larsson memaparkan bahwa setiap manusia yang berhati nurani dan mengecap kepedihan dalam hidup berhak memperoleh kasih sayang, kepedulian, serta keberpihakan. Bisa jadi Salander merupakan pribadi yang amat sulit direngkuh, mengundang banyak tanda tanya dan syak wasangka, dilekati imej lesbian pemuja setan, akan tetapi Blomkvist ingin melindunginya dengan merahasiakan talenta gemilang gadis itu dalam komputer dan hacking, Armansky melakukan penyelidikan spesial dengan mengirim dua orang ke dalam tim polisi secara cuma-cuma, Palmgren pun demikian kendati ia tidak mengetahui apa yang telah dilakukan penggantinya kepada Salander.

Dalam setiap fiksi berseri, selalu muncul kekhawatiran bahwa kualitas buku berikutnya menukik sekian persen. Penulis memperlihatkan keunggulannya. Persamaan buku ini dengan The Girl With The Dragon Tattoo hanyalah pada itikad beberapa orang untuk membeberkan suatu ketidakadilan melalui media dan buku. Selebihnya, pembaca diajak berjalan-jalan menapaki berbagai sudut yang relatif baru. Memakai kacamata detektif, hakim, polisi, jurnalis, psikiater, dokter, guna meneropong segala kemungkinan yang jamak timbul dalam sebuah kisah misteri. Pecinta IT kembali dimanjakan dengan seluk-beluk memata-matai isi komputer secara lebih terperinci, kecanggihan teknologi yang mengamankan situasi seperti alat deteksi gerak, ICQ, PGP, yang dikombinasikan penuh kejelian dengan aspek politik, kekuasaan, penulisan buku penuh bobot yang tentu saja tidak memakan waktu sekejap mata, selain kelamnya trafficking itu sendiri.

Daya pikat cukup besar terpancar dari kehadiran karakter-karakter perempuan yang tangguh dalam novel ini. Di samping Salander dan Erika, Annika – adik Blomkvist – memperoleh sorotan sedikit lebih dibanding buku pertama. Belum lagi Modig, seorang detektif kampiun yang tidak segan-segan menampar rekan satu timnya karena bersikap keterlaluan, Miriam Wu pasangan lesbian Salander yang jago kickboxing, menghasilkan perpaduan semarak sehingga The Girl Who Played With Fire semakin asyik dibaca dari bab ke bab. Kemunculan karakter-karakter pendukung yang cukup kontributif membuat novel setebal 904 halaman ini tidak menjenuhkan, pula mengaburkan pemakaian ‘ia’ yang amat kentara selaku subjek maupun objek dalam kalimat. Sebut saja Paolo Roberto, yang ternyata bukan tokoh fiktif. Mantan petinju yang dikisahkan menggembleng Salander ini turut membintangi film The Girl Who Played With Fire sebagai dirinya sendiri.

Menginjak buku kedua ini, kian benderang mengapa trilogi Blomkvist dan Salander meraih bestseller internasional.

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Comment to: Menyibak Teka-teki Salander: The Girl Who Played With Fire