Menyederhanakan Bahasa dalam Buku Anak

March 04, 2011
2 mins

Pakem penerjemahan buku anak, menilik budaya dan tingkat pemahaman yang berbeda, kerap menuntut kreativitas penerjemah untuk memeras kalimat selentur mungkin. Tetap wajar, tidak menimbulkan kening berkerut terlalu sering. Mengapa terlalu sering? Sebab kembali pada hakikat buku sebagai media pengenalan kosakata baru, menurut saya, pembaca anak jangan selalu ‘dirintangi’ untuk menyerap sebuah lema. Anak-anak masa kini sudah tahu manfaat kamus dan bertanya kepada Google pula.

Saya menganut prinsip bahwa kalimat panjang untuk anak-anak, terutama yang berusia 10 tahun ke atas, tidak jadi soal. Yang penting jelas, diusahakan pula SPOK-nya lengkap.

Berikut beberapa kasus yang pernah saya temui dalam penyederhanaan bahasa buku anak.

1. Bagaimana cara membuat api artifisial?

‘Artifisial’ terasa berat, sedangkan ‘buatan’ jadi pengulangan, terpaksa saya menggunakan kata ‘bohongan’. Alhasil, kalimatnya adalah Bagaimana cara membuat api bohongan?

2. Dulu, orang hebat tidak selalu mengemuka-> tidak selalu dikenal banyak orang->tidak selalu populer.

3. Dewasa ini, pemakaian istilah ‘bayi’ mulai samar. Dahulu, sependek pengetahuan saya, anak berusia tiga tahun masih tergolong bayi. Tetapi sekarang, yang berumur satu setengah tahun pun sudah pandai berbicara. Maka saya menggantinya dengan sebutan ‘anak’ atau ‘bocah’.

4. Dalam suatu kalimat, arti harfiahnya adalah ‘menangis sambil kokosehan (bahasa Sunda, kira-kira seperti kelojotan dan menendang-nendang di tanah/lantai).’ Setelah cukup lama dan mengingat anak-anak yang saya kenal saat sedang ngambek, saya tidak menemukan bentuk yang lebih singkat ketimbang ‘menangis berguling-guling’.

5. Menyatakan tidak setuju tidak berarti harus marah-> Tidak perlu marah untuk menyatakan tidak setuju

6. Menaikkan detak jantung bisa dimengerti oleh orang dewasa dengan segera, tetapi kurang luwes untuk anak-anak. Saya menggantinya menjadi mempercepat detak jantung.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response for this article

  1. Ririen (Saptorini)
    on
    March 7th, 2011

    Siip, serasa punya guru bahasa khusus. trimakasih bagi-bagi ilmunya, Mbak.