Menerjemahkan Beragam Genre Buku

January 29, 2011
50 secs

Obrolan dengan seorang relasi editor bahwa ada penerjemah yang wanti-wanti agar tidak diberi tugas mengerjakan genre tertentu, misalnya buku remaja (yang ini cukup banyak) dan buku klasik, membuat saya teringat postingan Mbak Poppy di sana.

Sampai saat ini, mayoritas buku yang saya terjemahkan adalah bacaan anak, baik fiksi maupun non fiksi. Enam di antara total karya merupakan fiksi klasik (delapan dengan yang akan saya kerjakan), namun saya tidak sengaja menetapkan jalur ini. Seandainya boleh memilih, tentu saya ingin menjadi penerjemah thriller.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penerjemah yang menentukan spesialisasi masing-masing, saya tetap bersyukur atas keragaman pekerjaan yang diserahkan penerbit. Dalam segmen klasik saja, misalnya, tetap terdapat dinamika yang menarik. Setelah selama ini berkutat dengan novel yang cenderung feminin, saya berhadapan dengan kisah bermuatan sejarah dan sangat ‘nyastra’. Pengalaman menantang, terlebih mengingat bahasa novel klasik yang berbunga dan acap kali penuh teka-teki.

Untuk memperdalam penghayatan, saya mengumpamakan diri tengah membaca. Di sinilah terasa betapa pentingnya penyegaran. Setelah beberapa buku bahasa Inggris, saya rindu mengerjakan buku Prancis. Usai satu-dua buku klasik yang amat berbau drama, saya bersemangat menerjemahkan buku bisnis. Begitulah seterusnya. Jika satu buku thriller saja bisa menghantui saya dengan mimpi buruk selama berpekan-pekan, entah bagaimana apabila saya menerjemahkan novel menegangkan satu tahun penuh.

Pamungkas tulisan ini bisa jadi klise belaka: do what you love, love what you do.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.