Memperoleh Job Terjemahan Tanpa Melamar

February 19, 2011
3 mins

Pertanyaan yang paling sering dilayangkan kepada saya adalah, “Bagaimana caranya agar saya ditawari oleh penerbit tanpa perlu melamar atau ikut tes?” Ini wajar apabila penerjemah bersangkutan sudah pernah menghasilkan karya walaupun relatif belum banyak, atau sedikit gelisah karena buku yang dikerjakan belum juga terbit (namun kasus seperti ini sudah jarang terjadi). Toh, sejujurnya, saya merasa bingung dan tidak punya jawaban yang pas. Maka saya akan mencoba menerangkan sesuai pengalaman saja.

Walaupun penerjemah buku tidak sebanyak penulis, harus diakui bahwa keberadaan kita tidak semencorong penulis. Pasalnya, nama penerjemah dicantumkan di bagian dalam dan kadang sangat kecil. Bahkan saya pernah berbincang dengan seorang editor, bahwa seorang penulis kenamaan dari Belgia (dengan karya yang amat legendaris pula) memberlakukan syarat agar nama penerjemah dan editor edisi terjemahannya tidak dipampang di halaman dalam sekalipun. Jadi harus bagaimana?

Saran saya, aktiflah di jejaring sosial untuk perbukuan seperti Goodreads, Shelfari, Library Thing, dan lain-lain.. Bukan dengan iktikad promosi belaka, namun di sana akan menambah wawasan kita mengenai buku dan adanya penerbit yang terus bertambah atau berekspansi genre. Susun rak karya yang rapi, dan bila sempat, bertandang ke akun para pembaca. Bukan tidak mungkin, di jejaring komunitas buku yang besar dan hidup ini, kita bertemu klien baru setelah diskusi panjang lebar mengenai suatu tren (misalnya).

Jika memiliki blog/akun Facebook/Twitter, hendaknya penerjemah menceritakan proses kreatif penggarapan sebuah karya, utamanya yang baru terbit. Tantangan/kesulitan yang kita alami, contoh-contoh kalimat yang menarik, akan memesona peminat buku dan menjadi kesempatan berbagi ilmu.  Sempatkan juga berkunjung ke blog sesama penerjemah atau terlibat pembahasan buku terjemahan.

Sangat tidak dianjurkan: meminta penerjemah lain (terutama yang baru saja kita kenal) merekomendasikan kepada relasinya. Begitu pula langsung ‘menyodorkan diri’ kepada penerbit di kali pertama ‘bertemu’. Apabila karya kita memang terbukti sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan, kita tidak perlu bersusah payah untuk itu.

Pekerjaan adalah masalah rezeki, dan datangnya acap kali tidak diduga-duga. Contohnya, saya melamar dan ikut tes di sebuah penerbitan untuk posisi penyunting freelance, kemudian justru ditawari menerjemahkan. Tetapi memperoleh order tanpa melampaui tes bisa dikatakan sulit, dalam arti jarang sekali. Saya pribadi sampai hari ini masih menempuh tes, yang ada kalanya direspons cukup lama sampai penerbit memperoleh genre buku yang dinilai cocok untuk kapasitas saya.

Singkat kata, mari bekerja sebaik-baiknya. Banyak membaca, banyak belajar, supaya kemampuan meningkat dan klien dengan sendirinya ‘terjerat’.

Dari Catatan Penerjemahan

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

9 Responses for this article

  1. on
    February 19th, 2011

    Kalau penerjemah bahasa Jepang sih mudah sekali mendapatkan job, terutama dari perusahaan Jepang dan agency. Satu-satunya alasan penerjemah Jepang susah mendapatkan job cuma satu: kalau terjemahannya jelek. Jadi saya nggak ngerti kenapa memperlakukan sesama penerjemah sebagai saingan, padahal kalau terjemahan kita bagus, ya tidak perlu takut dengan kemurahan Tuhan membagikan rezeki yang pantas. Situs barunya keren banget Mbak Rini. Tetap berbagi ilmu ya…

    • Rini Nurul
      on
      February 19th, 2011

      Mbak Dini, saya sampai membaca ulang postingan karena mengira ada bagian yang mengesankan ‘takut bersaing sehat’.
      Terima kasih Mbak, atas kunjungannya, dan selamat atas terbitnya kamus karya Mbak Dini.

  2. on
    March 17th, 2011

    pekerjaan adalah masalah rejeki = sepakat
    jadi harap bersabar kalau belum dihubungi penerbit, dan jangan lelah mencari peluang
    *curcol hehehe

    • Rini Nurul
      on
      March 17th, 2011

      Iya, Mbak, kadang setahun baru dihubungi. Pernah lagi tes editor, ditawari menerjemahkan. Seru, alhamdulillah:)

  3. andrie
    on
    March 29th, 2011

    hai mbak rini. aku baru saja mau memulai mencari job penerjemah freelance. pengetahuan saya untuk mencari job seperti ini masih sangat minim. boleh ga sharing langkah pertama yang harus saya lakukan? terima kasih ya

  4. Meggy
    on
    April 4th, 2011

    Mbak Rini,

    Saat ini saya sudah aktif sebagai penerjemah lepas, walaupun masih belum terlalu lama. Sebenarnya saya juga tertarik untuk menjadi penyunting lepas, tapi hingga saat ini belum berhasil menemukan informasi langkah awal apa yang harus ditempuh. Bisa sharing pengalamannya? Terima kasih.

  5. Meggy
    on
    April 4th, 2011

    Mbak Rini,

    Saya sudah baca posting-nya. Terima kasih banyak, cukup memberikan gambaran untuk saya yang masih pemula ini. Intinya kalau melamar ke penerbit manapun, baik sebagai penerjemah atau penyunting memang harus panjang sabar yah… ^^