Membaca Buku yang Hendak Diterjemahkan

February 20, 2011
2 mins

Pendapat mengenai ini terbagi dua:

1. Tidak sepaham, karena mengganggu ‘kejutan’ dalam cerita. Menerjemahkan memang terasa asyik jika menempatkan diri sebagai pembaca, sehingga tidak terasa seperti bekerja yang menguras tenaga.

2. Dipandang perlu, sebab terkadang ada yang bisa dipecahkan setelah membaca sampai selesai.

Dulu, saya beranggapan sama dengan yang pertama. Cerita dan gaya tutur pengarang yang menarik membuat saya penasaran dan terus menerjemahkan bab demi bab. Namun saat saya bersantai dan membaca (kelepasan) sampai tuntas, ada manfaatnya juga. Ada bab yang membuat saya ingin ‘berlari’ mengerjakannya, saking serunya, ada juga yang memberi saya semacam peringatan karena penuh emosi negatif dan, barangkali, perlu ditunda beberapa saat.

Seiring dengan waktu, saya makin sadar bahwa membaca dan ‘membaca’ sangatlah berbeda. Kata atau frasa yang tampil di muka kerap ‘mengecoh’. Ada makna tersembunyi yang perlu dikuak sehingga penerjemah acap kali harus membaca berulang-ulang, selain mencocokkan dengan konteks. Sebut saja suatu istilah (atau julukan) yang muncul cukup sering dalam setiap bab. Ini pertanda penerjemah harus konsisten, agar penyunting tidak repot-repot memeriksa materi asli hanya untuk satu kata mengingat masih banyak yang harus ia lakukan di samping mengurusi teks.

Dalam novel yang tengah saya terjemahkan, ada kata Hills yang serta-merta saya artikan ‘perbukitan’. Setelah nyaris menuju tamat, terungkaplah definisi dan konteks sebenarnya bahwa yang dimaksud pengarang ialah ‘Pegunungan’. Itu hanya satu kata, tetapi bayangkan kerepotannya karena harus meneliti sedari awal, apalagi frekuensi kemunculannya amat banyak.

Satu hal yang perlu diingat: jangan pernah tergoda untuk menggunakan Replace All. Percayalah, itu permulaan bencana besar.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.