Master of the Game

February 13, 2012
4 mins

Penulis: Sidney Sheldon
Penerbit: William Morrow and Company, 1982
Tebal: 495 halaman, hardcover

Setelah membaca ketiga novel ini, makin pahamlah saya mengapa judul versi
Indonesianya diterjemahkan menjadi ‘Ratu Berlian’ (dengan ilustrasi
sampul yang mirip Brooke Shields, terbitan tahun 90-an). Walaupun
bercerita sedari awal terbentuknya klan bisnis Kruger-Brent Limited,
yakni petualangan seorang pencari berlian bernama Jamie McGregor,
karakter utama yang sesungguhnya adalah Kate, putri bungsunya.
Perempuan berkeyakinan baja yang semenjak kanak-kanak sudah sesumbar
akan menikah dengan David, tangan kanan ayahnya di perusahaan.

Seperti dalam kebanyakan novel Sidney Sheldon, Kate McGregor merupakan
karakter wanita ambisius yang memiliki bakat cemerlang dalam bisnis.
Ambisinya menyebabkan ia sempat berseberangan dengan David, sang
suami, saat perang pecah dan ia menghendaki perusahaan menjadi
penyuplai amunisi. Kesempatan tidak datang dua kali. Di mata Kate,
selain keuntungan yang diincar, ia menginginkan Kruger-Brent menjadi
yang terdepan dan terbaik.

Karakter Kate mirip dengan Lara Cameron dalam The Stars Shine Down
(Kilau Bintang Menerangi Bumi). Keduanya berdarah Skotlandia dan
terkesan dingin kala menerjuni dunia usaha. Bedanya, Kate adalah
penerus sedangkan Lara merintis dari nol. Kate tidak sempat mengenal
ayahnya, sementara Lara memendam luka lama karena kelahirannya tak
dikehendaki sang ayah.

Master of the Game yang bersetting, antara lain, di Afrika Selatan
menyajikan tema lain dari karya-karya Sheldon pada umumnya. Potret
rasialisme, ketersingkiran warga pribumi, serta sub topik khas
novel-novel Sheldon: dendam. Novel ini memaparkan betapa
menakjubkannya perjalanan hidup yang serba sukar diduga. Jamie
membalas dendam kepada Salomon Van der Merwe atas kelicikannya serta
perbuatan biadabnya pada adik perempuan Banda dengan menghamili putri
satu-satunya, Margaret. Toh ia jatuh hati pada anak lelaki yang
dilahirkannya sehingga rela menikahinya walau sekadar status.

[spoiler] Tak
dinyana, Jamie junior terenggut nyawanya justru di ladang berlian yang
sangat dibanggakan sang ayah. Saksi petualangan menentang maut dengan
sahabat karibnya sekaligus solidaritas yang sama sekali berlawanan
dengan diskriminasi pada saat itu. Jamie merasakan kekosongan setelah
meraup kesuksesan, sebagaimana Margaret merasa bersalah melihat
guncangan jiwa yang diderita ayahnya setelah ia mengaku hamil. [/spoiler]

Cukup banyak karakter unik dalam novel yang memukau saya sejak membaca
terjemahannya 10 tahun silam tersebut. Banda, yang tidak serakah dan
hanya menghendaki tiga butir berlian kecil hasil jerih payahnya
bersama Jamie untuk menempuh hidup baru. Margaret, yang sepenuh hati
berkorban di sisi lelaki yang dicintainya dan memilih merawat sendiri
Jamie kala terserang stroke akibat duka mendalam sepeninggal putranya.
[spoiler] Ketika hendak menutup mata, Margaret berkata pada Kate, “Selama ini
aku cemas, siapa yang mengurus ayahmu di sana.”
Madame Agnes dan anak buahnya, yang mengurus Margaret baik-baik semata
karena simpati hingga terlihat lebih mulia dibandingkan wanita lain di
luar rumah bordil tempat mereka berada. [/spoiler]

Sheldon menunjukkan potret bisnis yang demikian kotor dan dapat
mengubah sifat manusia. Kate tak mau menerima kenyataan bahwa putra
tunggalnya, Tony, menjadi gagap hanya bila berhadapan dengan dirinya.
[spoiler] Ia berusaha menghancurkan impian Tony untuk menjadi pelukis dan
memaksakan menantunya melahirkan walau kondisi fisiknya sangat lemah,
semata demi memperoleh penerus. Ambisi mengerikan itu menurun pada
salah satu cucu kembarnya, seorang perempuan cantik namun rakus lagi
bengis. [/spoiler]

Kelihaian Sheldon bercerita membuat Master of the Game amat menawan
untuk terus disimak. Sependek ingatan saya, inilah satu-satunya novel
trilogi yang dapat saya tuntaskan sekaligus meninggalkan kesan
mendalam di hati. Membuat saya selalu rindu untuk membacanya lagi dan
lagi.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.
PREVIOUS ARTICLE
The Naked Face
NEXT ARTICLE
Dark Tower