Tulisan ini terinspirasi postingan Pak Sugianto Yusuf di sana.

Saya tak perlu merinci betapa 14 tahun silam, saya sudah berbinar mendapati lowongan editor di berbagai penerbit yang dipampang surat kabar, khususnya kolom iklan hari Sabtu. Bahkan sejujurnya, ketertarikan itu jauh lebih besar daripada cinta saya pada dunia menulis, tanpa bermaksud membandingkan secara tidak proporsional.

Semuanya tahu, besar penghasilan penyunting kadang tidak sampai separuh penulis atau penerjemah. Penyunting tidak mendapat bagian royalti, jatah complimentary copy-nya hanya satu eksemplar dan kadang-kadang belakangan. Saya berhenti mengeluh tatkala mengetahui bahwa ada editor in house yang tidak memperoleh bukti terbit sama sekali. Di penerbitan tertentu, mereka menerjemahkan buku tanpa mendapatkan kompensasi. Tapi mereka bertahan.

Pernah dengar yang namanya tobat sambel? Itulah yang saya alami. Penyuntingan berdarah-darah (kadang saya tambahi jadi menangis kolam darah) setiap kali menghadapi naskah yang tanda bacanya masih lintang pukang bak kena angin topan, logika kusut yang membuat saya harus membaca ulang dari awal dan mencocokkan aneka data, diksi tidak pas yang membuat saya mengurangi waktu tidur untuk melototi kamus sampai mata bengkak, acap mendorong hati kecil berteriak, “Saya tidak mau mengerjakan yang seperti ini lagi!” Tapi ada yang namanya risiko kerja. Konsekuensi. Komitmen. Yang harus dipikul secara sadar dan ikhlas.  Ada iklan berbunyi, “Berani kerja, berani capek!” Saya modifikasi sedikit, “Berani jadi editor, berani pusing!”

Apakah semua pekerjaan harus dinilai dari kilaunya, menterengnya nama di kulit muka buku, deretan digit di SPK yang kemudian beralih ke saldo rekening? Sejujurnya, ada kalanya menyunting menghasilkan kompensasi materi ‘memuaskan’ meski tidak sering. Tapi selama saya bahagia, selama saya memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang terus bertambah seiring diskusi menarik dengan para editor cerdas yang tidak segan berbagi ilmu, dengan para penerjemah dan penulis andal yang tidak menganggap diri ‘malaikat’ serta rela dikritik sejauh membangun, rasanya tidak perlu melekatkan alergi pada pekerjaan ini. Bahkan wawasan dan pelajaran yang terkucur dapat dijadikan cermin kala saya menulis dan menerjemahkan.

Ya, jadi editor itu stres. Bikin ubanan. Bikin punggung pegal karena menempel di kursi dan depan layar monitor. Kadang saya jadi sinting, miring, merinding, keriting, hampir juling. Tapi harus ada yang melakukannya. Dan saya bukan satu-satunya.

Jadi penyunting, siapa takut?

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

12 Responses to “ Masih Jadi Penyunting? Mengapa? ”

  1. gravatar lulu
    March 16th, 2011

    “tapi harus ada yang melakukannya” <– like this… salam sunting 🙂

    • gravatar Rini Nurul
      March 16th, 2011

      Salam sunting, Lul. Thank you:)

  2. gravatar Aini
    March 16th, 2011

    Huahahaha. Iya, ya? Kayak gitu, ya?
    (lupa rasa nyunting karena lagi gak nyunting)

    • gravatar Rini Nurul
      March 16th, 2011

      Walah, yang setahun ngantor juga terlupakan, Nui?:D

      • gravatar Aini
        March 17th, 2011

        Hihihi.
        Yang di kantor itu nggak terlalu kerasa nyuntingnya, Mbak. Pas bete nyunting, aku bisa melarikan diri dengan melakukan tugas yang lain. Entah itu berburu buku baru, bikin usulan judul dan sinopsis dan ngeribetin atasan, ngorder cover dan ngeribetin desainer, ngecek progress dan ngeribetin asisten editor, bikin laporan keuangan dan ngeribetin orang keuangan, atau nelpon penerjemah buat nagih ataupun ngasi order.

        Kalau udah bete ma tugas lain, ya balik nyunting, deh. Wkwkwk 😛

        • gravatar Rini Nurul
          March 17th, 2011

          Haa, masih banyak yang bisa dikulik nih buat bahan tulisan berikutnya:D *kedip-kedip*

        • gravatar esti
          March 17th, 2011

          penyunting perlu bikin catatan juga lho, apalagi kalau serial hehehe

          • gravatar Rini Nurul
            March 17th, 2011

            Tentu saja:)

  3. gravatar esti
    March 16th, 2011

    ooohhhh pantesan saya sekarang banyak uban *mau ke salon

    • gravatar Rini Nurul
      March 16th, 2011

      Salon khusus editor ada ya, Mbak?:D

  4. gravatar Ririen (Saptorini)
    March 21st, 2011

    Kok sama dengan yang saya rasakan, ya? Pernah saya bilang ke suami mau pensiun jadi penyunting. Tapi … ya gitu deh. tTetap aja jadi penyunting sampai sekarang.
    Kemarin juga ada yang komen ke saya. “Kalau semua pingin jadi penulis, trus yang ngedit siapa to, Mbak?”

    • gravatar Rini Nurul
      March 22nd, 2011

      Ya Mbak, tanpa bermaksud mendudukkan editor sebagai ‘dewa’, kalau sudah panggilan jiwa, tidak bisa dipungkiri lagi:)