Malas Bertanya, Sesat di Kerjaan

November 09, 2010
2 mins

Saya sedang menyunting. Saya sudah mengerjakan sekitar..30 halaman sejauh ini. Lumayanlah dari kuota 100 halaman yang harus dicapai per 5 Desember nanti.

Saya sudah gembira karena melakukan eksperimen yang melancarkannya, beserta sekian tahap sehingga tetap dapat bekerja dengan konsen walau sambil YM-an. Tapi..

Petaka terjadi kemarin. Saya seharusnya tidak bekerja dengan tidur bolong..maksudnya, kurang tidur karena malam sangat dingin dan saya bolak-balik pipis. Sekitar jam dua pagi pun ada serangga aneh, yang dicurigai menyengat, karena suaranya mirip lebah. Binatang itu hinggap di kasur, dan saya pijit di balik seprai lantaran takut digigit. *penting banget ya*

Jadilah, saya teler menghadapi naskah padahal temanya..penyakit kanker! Saya sudah cukup puas dengan 4,5 halaman..tersenyum lebar..lalu mengklik Save As untuk bab selanjutnya.

Teman-teman tahu kan apa yang sudah saya lakukan?

Pagi ini saya hendak mulai kerja, dan ternyata bab baru save-as-an yang 1 halaman ketik itu MENIMPA file sebelumnya yang 4 halaman hasil peras otak. Saya harus mulai lagi? Tidaaaak! Saya lanjutkan dulu yang ada:(

Iseng-iseng saya buka softcopy yang diemailkan editor in house. Sempat bingung juga, kenapa sih ngasih file dobel-dobel..dan..eng ing eng..ada perbedaan. Saya diam.

Saya tulis di wall sang editor, dengan harapan cepat dibaca/dibalas: ‘Mbak, maaf aku baru ngeh bedanya..yang dipake yang mana ya?’

Sampai siang, saya bolak-balik list relasi di YM, beliau tak kunjung OL. Maka saya SMS mbak editor yang baik itu. Katanya beliau sedang di Jakarta. Oke, deh.

Barusan beliau menjawab, katanyaaaa.. “Softcopy.”

*nangis sesenggukan* Kenapa, oh kenapa saya tidak menanyakannya sejak bulan lalu?

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.