Makin Berpengalaman, Kerja Makin Cepat

January 26, 2011
3 mins

Praduga itu disampaikan oleh seorang kawan yang mulai berkecimpung di bidang penerjemahan. Sejujurnya, dahulu saya sempat berpikir serupa. Ketika menerjemahkan dokumen, misalnya, saya bisa menerabas dan jarang membaca ulang. Mas Agus yang ketiban pulung memeriksa dan memperbaikinya.

Itu 11 tahun yang lalu. Sekarang kami mempunyai kesibukan masing-masing dan, jika membutuhkan bantuan mendesak dari satu sama lain, harus rela mengorbankan jadwal yang tersusun rapi.

Dulu, 45 hari terasa cukup untuk menerjemahkan novel berbahasa Prancis bertebal sekitar 300 halaman. Mengapa? Ada adik saya yang siap membuka kamus cetak dan mencarikan arti kata-kata sulit yang telah saya daftar di catatan. Mas Agus membacakan naskah asli sehingga tugas saya praktis ‘tinggal’ googling apabila terdapat frasa dan kosakata yang belum diketahui maknanya.

Seiring berjalannya waktu, saya harus terbiasa bekerja sendiri. Menilik koreksi editor dan membaca buku terjemahan yang bagus-bagus (baca: garapan para senior) membuat saya kian sadar akan pentingnya melakukan penyuntingan awal. Berdiskusi dengan editor yang menjadi penanggung jawab proyek, salah satunya, adalah agenda ‘wajib’ kala menemukan elemen ‘tidak biasa’ dalam buku yang diterjemahkan. Tentu saja, di samping bertukar pikiran dengan mereka yang sudah ahli.

Rekor terjemahan saya adalah tiga hari, tapi jangan salah, buku aslinya hanya delapan halaman dan berisi teks amat sedikit. Terakhir kali saya sanggup menerjemahkan ‘cepat’ adalah Marriage Bureau for Rich People, yakni satu bulan dan disela koreksi terjemahan yang dikerjakan sebelumnya. Tapi saya beroleh catatan cukup panjang dari penyunting, yang tentu amat diharapkan (oleh saya dan para klien) tidak terulang. Oleh sebab itu, saya mulai ‘bawel’ kala menggarap Pollyanna.

Menurut saya, 200-an halaman pun belum tentu bisa diselesaikan dengan baik dalam waktu satu bulan. Selalu ada yang perlu ditelisik. Materinya yang cukup berat (katakanlah sains, seperti Bumiku Masa Depanku), bahasa yang perlu disederhanakan karena diperuntukkan pembaca anak, unsur cerita yang bertentangan dengan budaya dan kebijakan penerbit (saya pernah membuang adegan ranjang sepanjang delapan halaman dengan bimbingan editor), dan kreativitas penulis yang perlu disikapi dengan kreativitas pula (contoh: puisi, syair, lagu, epigraf). Maka dari itu, target harian tidak dapat dipatok ‘mati’. Hari ini 20 halaman, besok bisa jadi hanya 2-3 halaman. Terjemahan memang penuh ‘kejutan’, demikian pula bahan suntingan, sebab jarang sekali sempat membaca lebih dulu sampai selesai. Seorang kenalan editor bergurau, “Namanya juga target, jarang bisa tercapai sempurna.”

Dulu, saya masih nekat menerima order editan ala Bandung Bondowoso (meski tak persis benar) dengan tenggat empat hari saja. Sekarang, menyunting naskah terjemahan selama tiga minggu pun sudah merupaka keajaiban. Masuk akal saja mengingat penerjemahnya cukup lancar dan menguasai tema.

Pendek kata, jangan takut menegosiasikan tenggat karena ini menyangkut kredibilitas kita.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses for this article

  1. on
    January 26th, 2011

    Justru setelah menerjemahkan beberapa buku, kita jadi cenderung lebih berhati-hati ya, Jeng? 😉

    • Rini Nurul
      on
      January 26th, 2011

      Betul. Terasa sekali sewaktu baca terjemahan yang telah lalu:D

  2. on
    January 26th, 2011

    asik nya jadi editor jadi pembaca pertama…

    • Rini Nurul
      on
      January 26th, 2011

      Kalau tulisannya sudah rapi, memang asyik, Mbak. Kalau masih centang perenang, saya butuh banyak infus.

  3. on
    January 27th, 2011

    hihihi, awalnya memang gitu, mengira bisa cepat, tetapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. istilah-istilah asing itu yang bikin bingung dan harus banyak baca buku untuk menambah kosa kata. mengedit hasil terjemahan sendiri, malah kadang lebih kejam dan tidak jarang menulis ulang. belajar menerjemah menyadarkan saya, kalau saya miskin kosa kata mbak… tfs – thank you for sharing.

    • Rini Nurul
      on
      January 28th, 2011

      Sama-sama, Nur. Aku merasakan hal serupa. Menyenangkan ya, dapat menekuni pekerjaan yang kita sukai dan menambah wawasan seiring dengan itu:)