Mafalda 7: Celoteh dalam Keluarga

January 09, 2011
5 mins

Penulis: Quino
Penerjemah: Ratna Dyah Wulandari
Penerbit: KPG, 2010
Tebal: vii + 86 halaman
Harga: Rp 35.000,00

Kali ini, rentetan polah Mafalda dan kawan-kawan dibuka dengan penjelasan mengenai penerjemahannya. Kendati disampaikan melalui karakter Manolito yang digambarkan selalu kesulitan menghadapi pelajaran jauh melebihi antusiasnya dalam menjalankan toko sang ayah, cukup terkemukakan bahwa mengalihbahasakan komik yang di negara asalnya terbit tahun 1971 ini terbilang tidak mudah. Di samping bahasanya relatif langka dalam arti tidak banyak orang yang menguasainya, peristilahan masa itu tentu perlu disesuaikan sedemikian rupa agar dapat dinikmati pembaca Indonesia. Utamanya konsumen Mafalda yang terdiri dari berbagai kelompok usia, termasuk anak berumur 9 tahun sebagaimana komentar yang tercantum di cover belakang.

Sesuai kulit muka buku, Mafalda masih tidak menyukai sup. Ia pernah mengusulkan kepada ibunya agar tidak memasak makanan itu selama masa-masa sulit, dan diganjar dengan keharusan menghabiskan sup mi dalam jumlah besar. Inilah benturan antara pemahaman Mafalda yang polos sebagai kanak-kanak dengan idealismenya sendiri yang berusaha dijadikan amunisi guna menghindari sesuatu yang tidak disukai. Namun tentu saja, seperti sang ayah yang sempat kekenyangan dan berubah pikiran ketika diingatkan pada pajak, justru kondisi ekonomi yang kurang baik membuat kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan semata karena tidak menyukainya.

Sindiran dan kritik tidak pernah ketinggalan disematkan dalam komik ini. Ketika Felipe tengah mencari ilham untuk mengerjakan PR mengarang dengan tema kemandirian bangsa, ia malah menemui pamflet, nama toko dan macam-macam lagi dalam bahasa Inggris di segala penjuru [hal. 5]. Potret yang cukup dekat dengan keadaan Indonesia.

Guille, alias Guillermo, mulai tumbuh kritis sekaligus terang-terangan seperti kakaknya. Ketika berlibur di pantai dan mendapati seorang pria berperut buncit, dengan lugu ia bertanya, “Ada dedek di cini, ya?” [hal. 70]. Saat mengetahui bahwa Mafalda belajar di sekolah dan ayahnya bekerja di kantor, Gulille menyebut dirinya dan ibunya pemalas. Seperti tingkah anak kecil umumnya, ia sesekali memanfaatkan peluang kala orangtua sedang lengah. Katakanlah ketika orangtuanya pergi menonton, Guille yang dikira sudah tidur pulas ternyata..asyik menggambari dinding!

Pernah mendengar bahwa setiap pertanyaan anak harus dijawab sejujur mungkin? Inilah yang dilakukan Mafalda ketika Guille mengajukan sesuatu yang berbau ilmiah, yakni mengapa kura-kura tidak punya sayap dan perut. Dengan fasih Mafalda menjelaskan, “Iya cuma nggak semua yang menetas dari telur punya sayap, yang lahir dari telur tuh ikan, laba-laba, ular, burung, semut, kodok, dan masih banyak lagi.”
Apa komentar Guille?
“Oh! Telul kok gak telolganicaci banged, cih!” [hal. 80].

Karakter Papa memancing senyum, sedikit mengingatkan pada ayah Shinchan, saat melihat wanita berbikini di pantai. Akan tetapi kala pria di sisinya melirik Mama Mafalda yang tengah berjemur sambil berbaring, kontan ia menyelimuti tubuh sang istri. Papa Manolito tak kalah menggelikannya. Ia shock dan membutuhkan perawatan dokter kala sang putra mengusulkan agar mereka berlibur beberapa hari serta membiarkan pelanggan berbelanja di toko lain.

Salah satu adegan yang sangat lucu ialah kala Guille melakukan emotional blackmail kepada ibunya. Ia dimarahi lantaran mengotori lantai dengan spidol, dan mengatakan bahwa ibunya adalah wanita yang baik. “Kalo malah-malah, dukan mamaku ladi, tapi ibu-ibu galak!”
Mama bersikeras, “Marah atau nggak, Mama itu tetap mamamu! Ngerti?”
“Gaak! Ku yatim piatu! Hiks!”

Sekonyong-konyong Mafalda berseru, “STOP MAIN SINETRONNYA! AKU NGGAK BISA NGERJAIN PR!!!” [hal. 14]

Toh, Mafalda tidak luput dari ‘akting ala sinetron’. Ketika disodori sup, ia berkilah, “Apakah yang engkau bawa itu? Oh! Pergilah! Jauhkan masakan hinamu itu dari sini!” [hal. 25]. Bayangkan jika anak Anda berkata demikian setelah Anda berpayah-payah memasak di dapur.

Di sini, hadir karakter baru yakni seorang bocah sangat mungil seusia Mafalda [dalam arti tidak tinggi seperti anak sebayanya] bernama Libertad. Ibunya seorang penerjemah, dan berikut ini dialog Libertad menerangkan pekerjaan sang ibu kepada Mafalda.
Mafalda: “Mamamu ngetik apa, sih?”
Libertad: “Terjemahan buku! Soalnya uang yang didapet papaku buat bayar apartemen. Mamaku bisa bahasa Prancis. Orang Prancis nulis buku pake bahasa Prancis terus mamaku nerjemahin buku-buku mereka ke bahasa kita. Nah uangnya buat beli mi sama barang-barang lain.”
“Ada eh tunggu..siapa namanya? Yanpol..Yanpol Belmon? [mungkin yang dimaksud Libertad adalah Jean-Paul Belmont] Bukan! Yanpol Sastro? Namanya siapa, ya?”
Mafalda: “Ah! Sartre!”
Libertad: “Itu dia! Ayam yang terakhir kami makan dari tulisan dia, tuh!”
[hal. 76].

Mafalda 7 lebih ringan dari biasanya, tetapi tidak mengurangi keasyikan dan pengetahuan yang dapat diperoleh dengan membacanya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.