Lima Mantra Cinta

February 18, 2011
3 mins

Modifikasi iseng-iseng dari tulisan lama di Masterweb Magazine.

Bahasa cinta 1: Tak berjumpa sehari, rindu yang terasa seperti seminggu tak bertemu. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.

Bahasa penerjemah 1: Sewaktu menuntaskan bab-bab akhir dan melakukan penyuntingan final, yang terpikir adalah tidur nyenyak tanpa dihiasi mimpi ketak-ketik di depan laptop. Berbaring seharian sambil membaca buku, berkencan dengan pasangan tanpa khawatir akan waktu yang terus berkejaran. Tetapi nyatanya, cuti bagaikan khayalan. Satu-dua hari tak menyentuh kamus atau berolah padanan, malah dilanda resah. Mulailah sapa-menyapa dengan relasi atau sesama penerjemah walaupun tidak sampai memasang pengumuman berhuruf kapital serba besar WOOY, RINDU ORDER NIH!.

Bahasa cinta 2: Cinta pada pandangan pertama membuat batin tersiksa.

Bahasa penerjemah 2: Melihat buku-buku keluaran sebuah penerbit ternama yang temanya variatif, penyuntingannya apik, dan reaksi pembaca terhadap kebanyakan produknya selalu positif membuat hati terbetot-betot keinginan menceburkan diri dalam perjalanan kelahiran beberapa dari buku tersebut. Lirik-lirik situs web penerbit bersangkutan, mencari tahu nama penyuntingnya di Facebook, melototi alamat email mondar-mandir sambil berpikir, ”Kira-kira masih butuh penerjemah nggak, ya? Kualifikasi saya sesuai nggak, ya?” Dan yang terjadi adalah hitung kancing: lamar, jangan, lamar, jangan..

Bahasa cinta 3: Cinta monyet, terkadang menyakitkan namun indah untuk dikenang.

Bahasa penerjemah 3: Namanya belum berpengalaman, gegap-gempita ketika menerima order tidak bisa ’dikamuflase’ secara profesional. Jadilah negosiasi yang mentah, alpa meneliti materi lebih dahulu dan ternyata tenggat yang disyaratkan tidak mencukupi untuk menyelesaikan pekerjaan. Tunggang-langgang sampai begadang, badan meriang, transfer berminggu-minggu baru datang. Meskipun sempat kesal dan geram, ketika sudah lama berselang, kejadian itu dicamkan sambil menyunggingkan senyum lebar dan berkata dalam hati, ”Pokoknya nggak lagi-lagi, ah.”

Bahasa cinta 4: Hubungan yang langgeng dan harmonis harus diusahakan oleh kedua belah pihak.

Bahasa penerjemah 4: Sebenarnya setelah buku terbit, masih ada kewajiban ’tak kasatmata’ yang timbul pada penerjemah dan penerbit. Mulai dari urusan bukti terbit yang menjadi hak penerjemah, kebersamaan merespons apresiasi pembaca termasuk kritik tanpa harus saling tuding, termasuk hal-hal yang terkesan ’sepele’ semisal ketepatan ejaan nama penerjemah. Penerbit dapat mengharumkan nama seorang penerjemah yang terbukti berkinerja baik kepada kolega dan relasi, demikian pula sebaliknya. Dari mulut ke mulut, penerjemah tak sungkan memaparkan impresi positif penerbit yang membayar honor tepat waktu, penyunting yang asyik diajak diskusi, dan simbiosis mutualisme yang sangat patut dipertahankan di hari-hari mendatang kepada sesama pelaku dunia alih bahasa.

Bahasa cinta 5: Uang tidak dapat membeli segala-galanya, terutama kebahagiaan.

Bahasa penerjemah 5: Tidak dapat dipungkiri, bahwa menikmati hasil keringat sendiri adalah suatu kepuasan. Tetapi saat kepala sudah nyut-nyutan, punggung berteriak minta diluruskan, mata bengkak karena lama tak dikatupkan, alarm berbunyi keras untuk menata ulang prioritas.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    February 18th, 2011

    hehehehe bener banget mbak bener…. setuju, karena ngalamin juga hahahaha

    • Rini Nurul
      on
      February 18th, 2011

      Hihihi, tapi biar riweuh juga tetap dijalani dengan ceria ya, Nur. Kadung cinta:D

  2. on
    February 25th, 2011

    Hahahaha 😀 Bahasanyaa.
    Kita ini terjebak dalam cinta, ya? wkwwkkwkwk

    • Rini Nurul
      on
      February 25th, 2011

      Benci tapi rindu tea, Nui:))