Komentar-komentar Tentang Silent Patient

March 19, 2020
6 secs

View this post on Instagram

Sebuah keputusan tepat memilih buku ini buat jadi pembukaan tahun 2020. Pelukis bisu memiliki halaman-halaman yang sulit membuat berhenti, mengajak pembaca menunggu si tersangka utama untuk bersuara sejak enam tahun menjadi bisu. The Silent Patient adalah tentang pasangan seniman Gabriel dan Alicia Berenson. Suatu malam, terdengar bunyi tembakan dari rumah suami-istri itu. Ketika polisi masuk, Gabriel ditemukan tewas tertembak lima kali di wajah dengan posisi terikat di kursi. Alicia berdiri di depan suaminya dengan wajah diwarnai teror mengerikan. Senjata api tergeletak di lantai. Darah muncrat ke mana-mana, membasahi dinding juga lantai kayu. Tangan Alicia tersayat dalam-dalam, tapi ia tidak mati malam itu. Namun, Alicia tidak pernah lagi bicara. Ia tak menjawab satu pertanyaan pun. Ia tetap diam ketika dituduh membunuh Gabriel. Alicia tetap bungkam sewaktu ditahan, tidak menyangkal atau mengaku. Ia tak pernah bicara lagi. Satu-satunya yang Alicia katakan adalah lewat lukisannya. Lukisan potret dirinya yang sedang akan melukis di kanvas kosong. Lukisan itu begitu mengerikan, tanpa ekspresi, tidak ada yang sanggup membacanya. Berjudul ALCESTIS dengan huruf-huruf Yunani warna biru terang, lukisan itu dipamerkan pada meja persidangan. Dan Alicia masih membisu. Semua setuju bahwa Alicia… gila. Tidak ada penjelasan lain. Tapi ada satu orang yang tidak memercayai hal ini dan bertekad menolong pelukis bisu itu. Theo Faber, psikoterapis berumur 42 tahun, datang ke The Grove, bertekad membuat Alicia bicara setelah enam tahun bungkam dalam kesunyian. Buku ini cerdasnya nikmat untuk dijalani. Istilah-istilah psikologis dan hukum entah bagaimana dengan mudahnya dibuat menjadi familier kepada pembaca. Seolah kita adalah psikoterapis itu sendiri, atau pembunuh itu sendiri. Dan sepanjang halamannya, kita tidak dibiarkan tidak menebak-nebak apa yang sesungguhnya sudah terjadi di malam pembunuhan Gabriel. Pelukis Bisu oleh Alex Michaelides Rp99.000,-

A post shared by Fiksi Gramedia Pustaka Utama (@fiksigpu) on

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)