Kisah Seorang Murid Buddha

January 18, 2011
40 secs

Judul: Buddha 6: Ananda

Penulis: Osamu Tezuka

Penerjemah: Asha Fortuna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007

Tebal: 355 halaman

ISBN: 9789799100788

Ananda, yang disebut dalam judul jilid ini, adalah putra tunggal suami-istri suku Sakya yang diburu orang-orang Kosala kala menaklukkan Kapilawastu. Karena terdesak, sang ayah mempersembahkan bayinya kepada iblis untuk menyelamatkan nyawa mereka sekeluarga.

Setelah menyaksikan kematian ibunya yang mengerikan, Ananda tumbuh sebagai bandit dan membenci manusia. Karakter itu sangat mewujud ketika Ananda mengacungkan pisau kepada gurunya yang menegur karena sang murid berani tidur dalam pelajaran. Melalui kacamata Ananda dan Ahimsa, seorang pengelana berdarah bangsawan, Osamu Tezuka mengritik kembali kesemena-menaan brahmana yang pada akhirnya korup belaka. Sangat mengesankan karena meniupkan pencerahan serta kebijaksanaan tidaklah selalu manjur dengan menampilkan figur teladan. Justru di sini kita diajak merenungkan bahwa manusia menjadi angkara murka bukan tanpa sebab, dan tidak pula mustahil disadarkan.

Dua buah tamsil menggetarkan hati dipaparkan Buddha untuk menjalani ketenangan hidup. Mulai dari sekawanan bebek, yang mungkin tidak pernah singgah di pemikiran kita. Juga seorang bocah di pinggiran kota yang terpukau gemerlap kemewahan.

“Hei, lihat itu, kucing dan anjing tidak butuh es lilin supaya senang.” (hal. 334)

“Itu api nafsu manusia yang berkobar.”
“Wow, apinya semakin besar.”
“Itu karena kau sangat terikat pada uang dan kesenangan.”
(hal. 338-339)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.